Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan Dinamika Pemaafan Diri dalam menghadapi kritik diri pada individu dengan pengalaman Harsh Parenting. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan metode fenomenologi kualitatif yang digunakan dalam menggali pengalaman subjektif partisipan yang mengalami Harsh Parenting dan Kritik Diri. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan cara melakukan wawancara in-depth interview, dengan jenis pertanyaan open ended question dan didukung dengan observasi pada subjek penelitian. Teknik pemilihan sample pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah partisipan sebanyak tiga orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan pengalaman Harsh Parenting dan kritik diri dapat menyadari bahwa tindakan mempertahankan kritik diri akan memperburuk kondisi; hal ini memunculkan kebutuhan untuk berdamai dengan pengalaman masa lalu. Pengalaman Harsh Parenting ditandai dengan hadirnya kekerasan verbal maupun fisik, serta minimnya afeksi dan validasi emosi, telah meninggalkan luka psikologis yang tertanam sejak masa kanak-kanak. Pemaafan diri muncul bukan sebagai bentuk kelonggaran moral atas kesalahan, tetapi sebagai respons psikologis untuk mengatasi ketegangan batin akibat kritik diri yang menetap. Proses pemaafan diri teridentifikasi melalui tahapan: uncovering,decision, work, and deepening. Tahapan ini menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi secara instan karena membutuhkan waktu dan usaha dalam mengembangkan rasa welas asih dalam diri. Penelitian ini menyarankan agar praktisi psikologi dan konselor dapat memberi ruang aman yang tidak menghakimi pada individu dengan pengalaman harsh parenting guna mereka dapat mengeksplorasi emosi-emosi dasar seperti rasa marah, kecewa, malu atau perasaan bersalah mendalam. Selain itu, diperlukan pula metode longitudinal untuk melihat proses perubahan pemaafan diri dalam jangka panjang.