Pengembangan perangkat lunak merupakan proses yang kompleks dan memerlukan pendekatan metodologis yang tepat agar produk akhir dapat memenuhi kebutuhan pengguna secara optimal. Di antara berbagai model pengembangan yang ada, Waterfall dan Agile adalah dua pendekatan yang paling sering digunakan dan mewakili dua filosofi yang sangat berbeda. Waterfall, sebagai model klasik, mengusung pendekatan linier dan terstruktur, di mana setiap fase harus diselesaikan sebelum fase berikutnya dimulai. Sementara itu, Agile menawarkan pendekatan iteratif dan fleksibel, dengan menekankan kolaborasi tim, keterlibatan aktif pengguna, serta kemampuan untuk merespons perubahan dengan cepat selama proses pengembangan berlangsung. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan kedua model tersebut dari berbagai aspek penting, seperti fleksibilitas, efisiensi waktu, pengelolaan risiko, skala proyek, serta tingkat keterlibatan pengguna. Dengan menggunakan metode studi literatur dari berbagai sumber akademik dan praktisi industri, analisis dilakukan untuk memberikan gambaran mendalam mengenai kelebihan, kekurangan, dan konteks penerapan masing-masing model. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidak ada satu model yang secara mutlak lebih baik dari yang lain, melainkan pemilihan model yang tepat sangat bergantung pada karakteristik proyek yang dijalankan. Waterfall cenderung lebih cocok untuk proyek dengan kebutuhan yang jelas dan stabil, sementara Agile lebih sesuai untuk proyek yang dinamis dan berkembang. Temuan dalam artikel ini diharapkan dapat membantu pengembang, manajer proyek, maupun akademisi dalam menentukan model pengembangan yang paling relevan dan efektif untuk diterapkan.(Thesing, Feldmann, and Burchardt 2021).