Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Model Pengembangan Perangkat Lunak: Waterfall vs Agile Siti Rawiyah; Maria Rosmelinda Rona Pani; Nabila Syabani; Nadilah Ulul Azmi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2142

Abstract

Pengembangan perangkat lunak merupakan proses yang kompleks dan memerlukan pendekatan metodologis yang tepat agar produk akhir dapat memenuhi kebutuhan pengguna secara optimal. Di antara berbagai model pengembangan yang ada, Waterfall dan Agile adalah dua pendekatan yang paling sering digunakan dan mewakili dua filosofi yang sangat berbeda. Waterfall, sebagai model klasik, mengusung pendekatan linier dan terstruktur, di mana setiap fase harus diselesaikan sebelum fase berikutnya dimulai. Sementara itu, Agile menawarkan pendekatan iteratif dan fleksibel, dengan menekankan kolaborasi tim, keterlibatan aktif pengguna, serta kemampuan untuk merespons perubahan dengan cepat selama proses pengembangan berlangsung. Artikel ini bertujuan untuk membandingkan kedua model tersebut dari berbagai aspek penting, seperti fleksibilitas, efisiensi waktu, pengelolaan risiko, skala proyek, serta tingkat keterlibatan pengguna. Dengan menggunakan metode studi literatur dari berbagai sumber akademik dan praktisi industri, analisis dilakukan untuk memberikan gambaran mendalam mengenai kelebihan, kekurangan, dan konteks penerapan masing-masing model. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidak ada satu model yang secara mutlak lebih baik dari yang lain, melainkan pemilihan model yang tepat sangat bergantung pada karakteristik proyek yang dijalankan. Waterfall cenderung lebih cocok untuk proyek dengan kebutuhan yang jelas dan stabil, sementara Agile lebih sesuai untuk proyek yang dinamis dan berkembang. Temuan dalam artikel ini diharapkan dapat membantu pengembang, manajer proyek, maupun akademisi dalam menentukan model pengembangan yang paling relevan dan efektif untuk diterapkan.(Thesing, Feldmann, and Burchardt 2021).
Estimasi Akumulasi Termal Lingkungan Terbuka Kota Batam Menggunakan Pendekatan Integrasi Simpson 1/3 Muhammad Abdul Husain; Nabila Syabani; Muhammad Rizky Kamil Al-Ayyuby; Muhammad Reza Syahputra; Nanda Jarti
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1371

Abstract

Paparan kalor termal yang ekstrem di kawasan perkotaan industri seperti Kota Batam berpotensi memicu fenomena Urban Heat Island (UHI) dan berdampak pada heat strain bagi pekerja maupun masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi akumulasi total paparan kalor termal harian di ruang terbuka Kota Batam menggunakan pendekatan komputasi numerik integrasi Simpson 1/3. Data yang dianalisis merupakan data sekunder historis suhu udara per jam yang tercatat pada tanggal 5 Mei 2026, mencakup rentang waktu aktivitas luar ruangan dari pukul 06:00 hingga 18:00 WIB. Mengingat fluktuasi suhu harian membentuk kurva nonlinier kontinu yang tidak memiliki solusi analitik eksak, metode numerik Simpson 1/3 diterapkan karena keunggulannya dalam memberikan tingkat akurasi tinggi melalui pendekatan polinomial berderajat dua dengan tingkat galat komputasi yang sangat minim. Hasil perhitungan komputasi menunjukkan bahwa akumulasi paparan kalor termal di lingkungan terbuka Kota Batam pada tanggal pengamatan mencapai 376,27 Derajat-Jam (°C·jam). Nilai ini merepresentasikan beban termal yang cukup masif jika diakumulasikan sepanjang jam kerja. Secara ekuivalen, rata-rata paparan suhu jam kerja berada pada level 31,35 °C, sebuah ambang batas yang membutuhkan kewaspadaan ekstra terhadap keluhan heat stress. Penelitian ini membuktikan bahwa metode komputasi numerik tidak hanya dapat diaplikasikan pada optimasi matematis teoretis, tetapi juga sangat relevan untuk memetakan risiko kesehatan lingkungan dan tata ruang kota, sehingga dapat menjadi dasar pertimbangan mitigasi UHI yang lebih komprehensif oleh pemerintah daerah.