Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan kompetensi esensial bagi perawat di fasilitas pelayanan kesehatan primer dalam penanganan kegawatdaruratan henti jantung, namun berbagai studi menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis perawat dalam pelaksanaannya, khususnya di wilayah dengan akses rujukan yang terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor yang berhubungan dengan keterampilan perawat dalam melakukan tindakan BHD di Puskesmas Pengandonan dan Puskesmas Betung, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, tahun 2026. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap seluruh perawat pelaksana berjumlah 31 orang yang diambil secara total sampling. Variabel independen meliputi umur, jenis kelamin, lama kerja, pengetahuan, sikap, motivasi, pelatihan, dan kelengkapan sarana prasarana, sedangkan variabel dependen adalah keterampilan perawat dalam melakukan BHD yang dinilai melalui lembar observasi berbasis SOP. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden (80,6%) terampil dalam melakukan tindakan BHD. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara umur (p=0,642), jenis kelamin (p=0,159), dan lama kerja (p=0,654) dengan keterampilan perawat, sedangkan sikap (p=0,038; PR=2,212), motivasi (p=0,043; PR=1,636), dan pelatihan (p=0,026; PR=1,826) terbukti berhubungan signifikan, sementara pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna (p=0,067). Variabel kelengkapan sarana prasarana tidak dapat dianalisis lebih lanjut karena seluruh responden (100%) menyatakan sarana prasarana kurang lengkap. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa motivasi dan pelatihan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan keterampilan perawat, dengan motivasi sebagai variabel paling dominan (OR=0,088). Model regresi yang diperoleh mampu memprediksi keterampilan perawat sebesar 45,5%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan motivasi kerja dan peningkatan akses pelatihan BHD secara berkelanjutan perlu menjadi perhatian utama dalam upaya meningkatkan keterampilan perawat di fasilitas pelayanan kesehatan primer.