Kulit merupakan pelindung tubuh dari lingkungan eksternal. Kulit seringkali mengalami gangguan antara lain yang disebabkan oleh luka. Hal ini dapat mengganggu fungsi kulit sebagai pelindung dan menyebabkan jaringan di bawahnya akan terpapar oleh agen infeksi maupun kerusakan mekanis lebih lanjut. Penutupan luka merupakan tahap penting untuk penyembuhan jaringan terutama setelah operasi. Pengobatan tradisional secara turun temurun dikenal masyarakat sebagai pengganti pengobatan modern. Getah angsana (Pterocarpus indicus) telah lama dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka dan sariawan. Penelitian ini ingin mengetahui efek pemberian getah angsana pada proses penyembuhan luka pada model luka sayat, dibandingkan dengan terapi standar yaitu povidone iodin secara topikal. Metodologi penelitian ini merupakan penelitian invivo, eksperimental randomize controlled parallel. Hewan coba tikus Sprague Dawley jantan dibagi menjadi dua kelompok, dilukai bagian punggung (full thickness wound). Kelompok I diberi ekstrak kulit kayu angsana, kelompok II povidone iodin 10% secara topikal. Luka tikus diamati dan diukur setiap hari mulai hari ke-0 hingga hari ke-14. Persentase penutupan luka relative terhadap hari ke-0 dianalisis secara statistik menggunakan T Test Independent. Hasil : Persentase penutupan luka kelompok angsana lebih besar daripada kelompok povidone iodin. Terdapat perbedaan bermakna penutupan luka H3, dan H7 antara kelompok angsana dengan povidone iodin. Pada H11 persentase penutupan luka kelompok angsana lebih besar, namun tidak ada perbedaan bermakna. Kesimpulan : Ekstrak kulit kayu angsana memiliki efek penutupan luka lebih cepat daripada povidone iodin, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif obat luka