Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kemampuan Lahan Untuk Ketersedian Air Baku Di Wilayah Pesisir Kabupaten Gorontalo Moh Fadlun Lamusu; Layosibana Akhirun; Rizky Juliansar Yasin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2563

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan lahan dalam mendukung ketersediaan air baku di wilayah pesisir Kabupaten Gorontalo, khususnya di Kecamatan Batudaa Pantai, Biluhu, dan Bilato. Wilayah pesisir memiliki karakteristik ekologis dan sosial yang kompleks, sehingga penting untuk mengetahui sejauh mana kondisi lahannya mampu menunjang ketersediaan air baku. Ketersediaan air baku menjadi salah satu aspek vital dalam mendukung kebutuhan domestik dan kegiatan produktif masyarakat. Oleh karena itu, analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi serta keterbatasan sumber daya lahan terhadap pemenuhan air baku secara berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial. Data dikumpulkan melalui studi literatur, dokumentasi peta, dan data sekunder dari instansi terkait. Parameter yang dianalisis meliputi kemiringan lereng, jenis tanah, dan curah hujan. Ketiga parameter tersebut diberikan skor dan bobot sesuai tingkat pengaruhnya terhadap kemampuan lahan menyediakan air. Teknik overlay dan analisis skoring digunakan dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menghasilkan peta satuan kemampuan lahan (SKL) serta mengetahui tingkat kemampuan lahan pada masing-masing wilayah kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kecamatan Bilato memiliki wilayah dengan kemampuan lahan tinggi terhadap ketersediaan air baku seluas 1.596,39 ha. Sedangkan wilayah dengan kemampuan sedang dan cukup masing-masing ditemukan di Kecamatan Batudaa Pantai dan Biluhu dengan luasan 13.947,85 ha dan 5.587,92 ha. Faktor pembatas utama adalah kemiringan lereng yang curam dan jenis tanah Mediteran Merah Kuning yang memiliki daya serap sedang, serta curah hujan yang relatif rendah. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dengan karakteristik lahan dalam perencanaan wilayah pesisir, guna memastikan keberlanjutan penyediaan air baku bagi masyarakat.
Analisis Pemanfaatan Ruang Dalam Perspektif Keberlanjutan di Kabupaten Gorontalo Layosibana Akhirun; Cindy R. Salangka
Journal of Multi Technology (J-Multitechno) Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Multi Technology (J-Multitechno)
Publisher : CV. Dalle' Deceng Abeeayla

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69623/j-multitechno.v2i1.262

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan ruang dalam perspektif keberlanjutan di Kabupaten Gorontalo dengan menilai tingkat kesesuaian antara penggunaan lahan aktual dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), serta dampaknya terhadap aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-analitis dengan dukungan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Data yang digunakan meliputi data primer melalui observasi dan wawancara, serta data sekunder berupa citra satelit, peta RTRW, dan data statistik. Analisis dilakukan melalui teknik overlay antara peta penggunaan lahan dan RTRW untuk mengidentifikasi tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian pemanfaatan ruang mencapai 65%, sementara 35% lainnya tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Ketidaksesuaian tersebut dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan penduduk, tekanan ekonomi, lemahnya pengawasan, dan rendahnya kesadaran masyarakat. Dampak yang ditimbulkan meliputi penurunan kualitas lingkungan, konflik sosial, serta ketidakseimbangan ekonomi wilayah. Dengan demikian, pemanfaatan ruang di Kabupaten Gorontalo belum sepenuhnya mencerminkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kebijakan tata ruang, peningkatan pengawasan, serta pemanfaatan teknologi SIG untuk mendukung pengelolaan ruang yang lebih berkelanjutan.