Saat ini, tari tradisional menjadi suatu kesenian yang kurang populer dan mulai ditinggalkan oleh kalangan generasi Z. Sangat sedikit generasi penerus bangsa yang peduli untuk melestarikan dan menggeluti budaya khususnya dalam bidang seni tari tradisional. Uniknya, di satu sisi cukup banyak dari mereka yang tertarik dan ingin mengikuti program pertukaran budaya dengan kegiatan berskala internasional untuk menampilkan pertunjukan seni tradisional di luar negeri, sedangkan kenyataannya minat terhadap pertunjukan tari tradisional yang diadakan di dalam negeri tergolong minim. Penelitian ini membahas tentang bagaimana konstruksi makna program pertukaran budaya pada siswa SMP anggota ekstrakurikuler seni tari tradisional tahun 2017–2019. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode fenomenologi dengan teori interaksi simbolik mazhab Herbert Blumer dalam upaya mengungkap cara berpikir, cara bertindak, dan mengungkap objek yang menjadi perhatian mereka, serta melihat cara mereka melakukan interaksi sosial dan joint action. Guna mendapatkan data, dilakukanlah wawancara mendalam dan peneliti bertindak sebagai observasi berpartisipasi. Hasilnya, siswa SMP yang mengikuti program pertukaran budaya memiliki motif ingin jalan-jalan dan adanya ketertarikan dengan negara tujuan. Seni tari tradisional dimaknai sebagai bentuk upaya mempromosikan identitas bangsa melalui simbol-simbol yang ditampilkan, seperti gerak tari, kostum, tata rias, dan properti yang digunakan. Adanya program pertukaran budaya dapat membentuk pribadi yang lebih percaya diri, berkomitmen, bertanggung jawab, dan disiplin. Terakhir, program pertukaran budaya dimaknai sebagai sebuah motivasi bagi siswa SMP dalam mempelajari budaya khususnya dalam bidang seni tari tradisional.