Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian global yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Penelitian sebelumnya menunjukkan mayoritas pasien penyakit jantung koroner memiliki kualitas hidup kurang baik berkisar 58,3%-70,9%, yang dipengaruhi oleh karakteristik demografi, faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti hipertensi, merokok, diabetes melitus, obesitas, dan penyesuaian gaya hidup berkelanjutan. Di Pusat Jantung Terpadu RSUP Haji Adam Malik Medan terdapat 727 pasien penyakit jantung koroner pada bulan Juli 2024, namun belum ada data spesifik mengenai gambaran kualitas hidup pasien tersebut. Kualitas hidup yang buruk dapat meningkatkan mortalitas, menurunkan produktivitas kerja, menimbulkan isolasi sosial, distress emosional, dan depresi yang berdampak pada keinginan mempercepat kematian pada pasien sakit parah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran kualitas hidup pasien jantung koroner di Pusat Jantung Terpadu RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2024 untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi peningkatan kualitas hidup dan outcome kesehatan pasien jantung koroner. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 727 pasien jantung koroner periode Juli 2024, dengan sampel sebanyak 88 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF terdiri dari 26 pertanyaan mencakup empat domain: kesehatan fisik (7 pertanyaan), psikologis (5 pertanyaan), hubungan sosial (3 pertanyaan), dan lingkungan (8 pertanyaan) dengan kategorisasi skor kurang (0-25), cukup (26-50), baik (51-75), dan sangat baik (76-100). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki kualitas hidup cukup sebesar 62,5% (55 orang), kualitas hidup baik 36,4% (32 orang), dan sangat baik hanya 1,1% (1 orang). Karakteristik demografi menunjukkan rerata usia 51,65 tahun dengan dominasi perempuan 55,7%, pendidikan SMA/SMK 70,5%, beragama Islam 59,1%, tidak memiliki penyakit penyerta 71,6%, dan rerata lama menderita 40,09 bulan. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hidup pasien jantung koroner masih perlu ditingkatkan melalui modifikasi gaya hidup, program rehabilitasi jantung terstruktur, peningkatan pengetahuan manajemen penyakit, dukungan psikososial, dan penguatan kesejahteraan spiritual untuk mengoptimalkan outcome kesehatan jangka panjang.