Sanggar Seni Singo Bhirowo merupakan salah satu komunitas pelestari kesenian Reog di Surakarta yang berupaya mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan sosial dan menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisi. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana pelatihan integrasi seni yang memadukan unsur musik, tari, dan teater dapat menjadi strategi penguatan eksistensi sanggar melalui pembelajaran kreatif dan partisipatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Design Based Research (DBR) untuk merancang dan mengimplementasikan program pelatihan berbasis praktik yang kontekstual dengan kebutuhan anggota sanggar. Pelatihan integrasi seni meningkatkan keterampilan teknis dan pemahaman estetis anggota, juga menumbuhkan kesadaran kolektif, kepekaan musikal, dan kepercayaan diri dalam berkarya. Proses latihan yang melibatkan permainan teater (theatre games), eksplorasi ritme melalui alat musik tradisional seperti slompret, serta pembentukan karakter tokoh Reog melalui pelatihan tari menghasilkan pengalaman belajar yang holistik dan reflektif. Dampak sosial pelatihan ini terlihat dari meningkatnya partisipasi anggota dan dukungan publik terhadap kegiatan sanggar, yang berpuncak pada pementasan Wayang Reog sebagai luaran program. Pementasan tersebut menjadi momentum kebangkitan eksistensi Singo Bhirowo dan membuka ruang kolaborasi baru dengan komunitas seni lainnya. Penelitian ini menegaskan bahwa pelatihan integrasi seni dapat berfungsi sebagai model pendidikan berbasis tradisi yang adaptif dan kontekstual, sekaligus strategi revitalisasi bagi keberlanjutan sanggar seni di era kontemporer.