Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Literature Review “Manfaat Tatalaksana Predialitik Untuk Memperlambat Progresivitas Penyakit Ginjal Kronis Dan Tatalaksana Intradialitik Untuk Memperbaiki Kualitas Hidup” Hade Irhas Alqudsi; Ariadi Humardhani; Linda Armelia
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4781

Abstract

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat dan menempati posisi penting dalam beban penyakit tidak menular di dunia. Data global menunjukkan sekitar 850 juta orang hidup dengan PGK, dan jutaan di antaranya membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau transplantasi. Di Indonesia, tren serupa terjadi dengan peningkatan signifikan jumlah pasien aktif hemodialisis setiap tahunnya, terutama akibat diabetes melitus dan hipertensi. Kondisi ini menuntut penerapan tatalaksana yang komprehensif, meliputi fase predialitik dan intradialitik, sebagai upaya mempertahankan fungsi ginjal serta memperbaiki kualitas hidup pasien. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan pustaka (literature review) yang bersumber dari berbagai publikasi ilmiah dan pedoman nefrologi terkini, termasuk KDIGO 2024, The Lancet, dan New England Journal of Medicine periode 2016–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa terapi predialitik berfokus pada pengendalian tekanan darah, perbaikan metabolik, koreksi anemia, serta edukasi dan dukungan psikososial untuk menunda progresivitas penyakit. Intervensi seperti penggunaan ACE inhibitor, ARB, dan SGLT2 inhibitor terbukti menurunkan albuminuria serta memperlambat penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG). Sementara itu, terapi intradialitik bertujuan meningkatkan efisiensi dialisis dan stabilitas hemodinamik melalui latihan fisik selama dialisis (intradialytic exercise), pemberian nutrisi intradialitik, pendinginan dialisat, serta penerapan hemodiafiltrasi volume tinggi. Integrasi kedua fase terapi ini membentuk sistem penatalaksanaan berkelanjutan yang tidak hanya memperlambat progresivitas PGK tetapi juga meningkatkan outcome klinis, status fungsional, dan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.
Tatalaksana Dan Strategi Pencegahan Readmisi Pada Pasien Dengan Sindrom Gitellman Ryan Firmansyah; Andi Arfian; Linda Armelia
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4783

Abstract

Sindrom Gitelman merupakan kelainan tubulus ginjal herediter yang diturunkan secara autosomal resesif akibat mutasi gen SLC12A3, menyebabkan disfungsi cotransporter natrium-klorida (NCC) di tubulus distal. Kondisi ini menimbulkan hipokalemia, hipomagnesemia, dan alkalosis metabolik kronik. Hipokalemia berat yang berulang dapat menyebabkan kelemahan otot hingga paralisis periodik dan meningkatkan risiko readmisi rumah sakit apabila tidak ditangani secara komprehensif. Melaporkan kasus pasien remaja dengan hipokalemia rekuren akibat sindrom Gitelman serta meninjau tatalaksana dan strategi pencegahan readmisi berdasarkan pedoman dan literatur terkini. Laporan kasus ini disusun melalui observasi klinis pasien perempuan 18 tahun dengan keluhan kelemahan otot generalisata dan kadar kalium serum 1,8 mmol/L. Analisis mencakup pemeriksaan klinis, laboratorium, EKG, serta evaluasi tatalaksana farmakologis dan non-farmakologis berdasarkan guideline KDIGO 2023 dan literatur terkini. Pemeriksaan menunjukkan hipokalemia berat, alkalosis metabolik, dan hipomagnesemia konsisten dengan sindrom Gitelman. Pasien mendapat terapi KCl intravena 50 mEq/6 jam melalui CVC, suplementasi KSR oral, serta spironolakton 25 mg dua kali sehari. Selain itu, diberikan edukasi diet tinggi kalium dan magnesium, pembatasan natrium, serta modifikasi gaya hidup. Perbaikan klinis dan biokimia terjadi dalam tiga hari dengan peningkatan kadar kalium menjadi 5,4 mmol/L. Tidak ditemukan aritmia atau komplikasi jantung selama perawatan.Tatalaksana sindrom Gitelman memerlukan pendekatan multidisipliner yang mencakup koreksi elektrolit, kontrol hormonal, serta edukasi pasien untuk mencegah kekambuhan. Kepatuhan terhadap terapi oral dan pemantauan elektrolit berkala menjadi strategi utama dalam menurunkan angka readmisi. Deteksi dini dan pengelolaan berbasis bukti dapat memperbaiki prognosis jangka panjang pada pasien dengan hipokalemia rekuren.