Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tranformasi Praktik Keagamaan Moderat Di Madura: Studi Kasus Pada Komunitas Pesantren : ) reformasi kurikulum dan materi pembelajaran yang mengintegrasikan nilai moderasi beragama dan kebangsaan; (2) penguatan jejaring sosial keagamaan melalui struktur Nahdlatul Ulama, alumni pesantren, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi; (3) pemanfaatan teknologi dan media digital sebagai sarana dakwah moderat; (4) reinterpretasi tradisi lokal sebagai basis penanaman nilai moderasi; dan (5) penguatan peran Khairunnafi Khairunnafi; Waqiatul Masrurah; Tobi Tobi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5804

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi praktik keagamaan moderat di Madura dengan menempatkan pesantren sebagai aktor utama. Madura dikenal sebagai wilayah dengan tingkat religiusitas tinggi, kultur hierarkis, serta keterikatan kuat pada figur kiai dan lembaga pesantren. Di sisi lain, dalam satu dekade terakhir, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama mendorong penguatan moderasi beragama sebagai strategi nasional menghadapi radikalisme, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama. Kondisi ini menuntut pesantren untuk melakukan penyesuaian dan pembaruan baik pada tingkat kurikulum, tradisi, maupun strategi dakwah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research), memanfaatkan dokumen kebijakan negara, buku, dan artikel jurnal bereputasi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi praktik keagamaan moderat di pesantren Madura berlangsung melalui: (1) reformasi kurikulum dan materi pembelajaran yang mengintegrasikan nilai moderasi beragama dan kebangsaan; (2) penguatan jejaring sosial keagamaan melalui struktur Nahdlatul Ulama, alumni pesantren, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi; (3) pemanfaatan teknologi dan media digital sebagai sarana dakwah moderat; (4) reinterpretasi tradisi lokal sebagai basis penanaman nilai moderasi; dan (5) penguatan peran kiai dan santri muda sebagai agen moderasi di tingkat akar rumput. Temuan ini menegaskan bahwa pesantren di Madura memiliki potensi besar untuk menjadi model praktik moderasi beragama di Indonesia, meskipun masih dihadapkan pada tantangan seperti penetrasi paham fundamentalis melalui media digital, polarisasi politik lokal, fanatisme kelompok, dan keterbatasan sumber daya teknologi.