Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Riau terhadap pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan melalui platform Learning Management System (LMS) Sikuli dan Sipatu. Dalam era digital saat ini, pembelajaran virtual menjadi sarana strategis untuk menyampaikan materi kewarganegaraan, yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menekankan pembentukan karakter dan kesadaran berbangsa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner esai terbuka dan wawancara mendalam terhadap tujuh orang mahasiswa aktif yang telah mengikuti mata kuliah tersebut. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa pada umumnya mengapresiasi fleksibilitas dan kemudahan akses materi melalui LMS, serta menganggap forum diskusi sebagai sarana penting untuk membangun pemikiran kritis dan toleransi. Namun, beberapa kendala ditemukan, seperti minimnya interaksi dosen, kurangnya pemanfaatan fitur interaktif, dan hambatan teknis seperti jaringan internet yang tidak stabil. Interaksi dalam LMS dinilai belum sepenuhnya mampu menggantikan komunikasi interpersonal secara langsung, meskipun dapat difasilitasi dengan strategi pengajaran yang tepat. Temuan ini diperkuat oleh teori komunikasi interpersonal Joseph DeVito dan teori connectivism dari Siemens, yang menekankan pentingnya jaringan dan hubungan dalam pembelajaran daring. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan peran dosen dalam mengoptimalkan fitur LMS serta penerapan strategi komunikasi yang lebih interaktif agar nilai-nilai kewarganegaraan dapat lebih efektif diinternalisasi.