Koperasi menghadapi risiko fraud yang signifikan dengan rata-rata 18 persen koperasi terlibat dalam praktik kecurangan, menyebabkan kerugian mencapai Rp26 triliun. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi anggota Koperasi Koperasi ABC terhadap praktik fraud dan mengevaluasi efektivitas pengawasan internal dalam mencegah kecurangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus instrumental, melibatkan wawancara mendalam dengan tiga informan utama (Ketua, Bendahara, dan Admin), observasi partisipatif terhadap Rapat Anggota Tahunan, serta analisis dokumentasi sistem pengendalian internal. Populasi adalah seluruh anggota Koperasi Koperasi ABC, dengan pengumpulan sampel menggunakan purposive sampling dan snowball sampling hingga mencapai data saturation. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pengurus terhadap fraud bersifat multidimensional mencakup dimensi finansial, behavioral, operasional, dan teknis. Sistem pengendalian internal yang mengintegrasikan COSO framework dengan pengendalian sosial berbasis budaya organisasi terbukti efektif meningkatkan pencegahan fraud hingga 85,3 persen. Transparansi laporan keuangan dan akses informasi terbuka menciptakan mekanisme peer auditing yang powerful dalam mendeteksi anomali. Budaya organisasi yang menekankan kekeluargaan dan gotong royong berfungsi sebagai soft control menghasilkan compliance lebih tinggi dibanding hard control formal. Kesimpulannya, integrasi pengendalian formal dan sosial menciptakan ekosistem fraud prevention yang komprehensif dan resilient, dimana budaya organisasi yang kuat menjadi fondasi utama pencegahan fraud berkelanjutan di organisasi koperasi yang member-oriented.