Femi Dian Pitasari
Universitas Sindang Kasih Majalengka

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Budaya Tabayyun di Media Sosial Berdasarkan QS. Al-Hujurât Ayat 6 Femi Dian Pitasari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6867

Abstract

This study examines how Islamic Education plays a role in shaping a culture of tabayyun among students in the era of social media, based on Qur’an Surah Al-Hujurat verse 6. The development of digital technology has indeed made access to and distribution of information easier; however, on the other hand, it has also triggered an increase in the spread of hoaxes, slander, and provocation. In this context, the value of tabayyun taught in Islam becomes highly relevant as a guideline for social media users to be more cautious, critical, and responsible. Islamic Education holds a strategic position in instilling these values through moral education, deepening the understanding of the meaning of Qur’an Surah Al-Hujurat verse 6, and cultivating ethical practices in using social media. To minimize the negative impacts caused by the spread of false information (hoaxes), the implementation of several strategic steps is required. These include fostering an attitude of husnudzan (positive thinking), avoiding the habit of instantly accepting and believing information without critical consideration, and applying the principle of tabayyun through processes of clarification and verification to ensure the truth and validity of information before it is disseminated. This process is reinforced through teachers’ exemplary conduct, appropriate learning methods, and the integration of tabayyun values into the curriculum, so that students become accustomed to verifying the accuracy of information before sharing it. The research findings indicate that the implementation of a tabayyun culture in Islamic education not only enhances Islamic digital literacy but also shapes students’ character to be wiser and more ethical in utilizing social media. Thus, Islamic Education plays an important role in building a digital society that is noble in character and responsible in accordance with the guidance of the Qur’an.
Model Pedagogi Tahfiz Berbasis Sanad Waqf-Ibtidā' di Pesantren Al-Manshur Popongan Perspektif Living Qur'an dan Ḥaq Al-Tilāwah Muhamad Khabib Imdad; Femi Dian Pitasari; Aulian Nida Khoirunnisa; Ahmad Aqiel Azkiya’
TARBAWI : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 11 No. 01 (2026): TARBAWI: JURNAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/5d3mdm67

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis model pedagogi tahfiz berbasis sanad waqf-ibtidā’ dalam tradisi pembelajaran Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan Klaten. Selama ini, kajian waqf-ibtidā’ lebih banyak berfokus pada aspek normatif dalam ilmu tajwid dan qirā’āt, sedangkan penelitian tentang pembelajaran tahfiz belum banyak mengkaji fungsi pedagogis tradisi bacaan tersebut dalam praktik pendidikan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi lapangan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta analisis tekstual terhadap pola bacaan beberapa surah pada Juz 30. Analisis dilakukan dengan memadukan perspektif Living Qur’an dan metode Ḥaq al-Tilāwah karya Ḥusnī Syaikh ‘Uṡmān. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik waqf-ibtidā’ di Pesantren Al-Manshur tidak hanya berfungsi sebagai kaidah bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi strategi pedagogis yang membantu segmentasi hafalan, menjaga ritme bacaan, memperkuat ketepatan pelafalan, dan mempertahankan transmisi sanad melalui proses talaqqī. Meskipun beberapa pola bacaan tidak sepenuhnya sejalan dengan kaidah normatif, praktik tersebut memiliki rasionalitas pedagogis yang mendukung efektivitas pembelajaran tahfiz. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi waqf-ibtidā’ merupakan bagian dari praktik Living Qur’an yang berkontribusi terhadap pengembangan model pembelajaran tahfiz berbasis sanad di pesantren serta dapat menjadi salah satu alternatif penguatan pembelajaran Al-Qur’an dalam Pendidikan Agama Islam. Kata kunci: Tahfiz Pedagogy; Waqf-Ibtidā’; Living Qur’an; Sanad; Qur’anic Learning.