Magda Siringo-ringo
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Santa Elisabeth

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelaksanaan Prosedur Initial Assessment Pasien Trauma Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2025 Yemima Teopany Sianipar; Magda Siringo-ringo; Indra Hizkia Perangin-angin
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7339

Abstract

Trauma merupakan fenomena kesehatan yang terus meningkat seiring kemajuan teknologi transportasi dan menjadi penyebab utama kematian pada pasien berusia di bawah 45 tahun. Keberhasilan penanganan pasien trauma sangat bergantung pada akurasi pelaksanaan initial assessment sebagai langkah awal evaluasi kondisi kritis yang mengancam nyawa. Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan mencatat 992 kasus kecelakaan lalu lintas pada tahun 2024 dan 179 kasus pada periode Januari-Februari 2025, yang mengindikasikan tingginya angka trauma yang memerlukan penanganan segera dan komprehensif melalui prosedur initial assessment yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan prosedur initial assessment pasien trauma di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2025. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel berjumlah 30 pasien trauma yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa lembar observasi yang telah tervalidasi, mencakup 19 komponen penilaian initial assessment meliputi airway, breathing, circulation, disability, exposure, full set of vital signs, give comfort, dan inspect the posterior. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dengan bantuan enumerator di IGD selama bulan Mei 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan prosedur initial assessment berada dalam kategori tinggi dengan persentase 86,7% (26 responden) dan kategori cukup sebesar 13,3% (4 responden), tanpa ada yang berada dalam kategori rendah. Karakteristik tenaga kesehatan menunjukkan mayoritas berusia 26-35 tahun (63,3%), berjenis kelamin perempuan (70,0%), berpendidikan Sarjana (40,0%), dengan masa kerja terbanyak 1-3 tahun (40,0%) dan >10 tahun (36,7%). Pasien trauma didominasi oleh laki-laki (53,3%) dengan kelompok usia terbanyak 26-35 tahun (20,0%). penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan prosedur initial assessment pasien trauma di IGD Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan berada pada tingkat yang baik, dipengaruhi oleh kombinasi pengalaman kerja yang matang dan tingkat pendidikan yang memadai. Meskipun demikian, masih terdapat 13,3% responden dalam kategori cukup yang mengindikasikan perlunya peningkatan berkelanjutan melalui pelatihan reguler, supervisi intensif, dan pemantauan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur untuk memastikan seluruh tenaga kesehatan mampu melaksanakan initial assessment secara optimal demi meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien trauma.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Pertolongan Pertama Kecelakaan Lalu Lintas Di Sekolah Sma Cahaya Medan Tahun 2025 Indra Hizkia P; Magda Siringo-ringo; Dea Ananda Br Ginting
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.8113

Abstract

Kecelakaan lalu lintas merupakan permasalahan global yang menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan pada remaja, dengan 30% kematian kelompok usia 10-24 tahun disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia periode Desember 2018 hingga Maret 2019 tercatat 28.238 kasus kecelakaan dengan 5.914 kematian, dimana kelompok usia 15-19 tahun paling sering terlibat dengan sepeda motor sebagai kendaraan dominan. Faktor manusia berkontribusi 61% sebagai penyebab utama mencakup pelanggaran aturan lalu lintas dan ketidakpatuhan terhadap peraturan. Pertolongan pertama yang cepat dan tepat dapat mengurangi nyeri, mencegah kecacatan, dan menyelamatkan nyawa korban, sehingga pengetahuan remaja tentang pertolongan pertama menjadi sangat penting mengingat mereka memiliki kemungkinan terbesar sebagai bystander di lingkungan masyarakat. Observasi awal di SMA Cahaya Medan menunjukkan siswa belum pernah mempelajari tindakan pertolongan pertama saat kecelakaan lalu lintas akibat kurangnya pemahaman mengenai prosedur penanganan awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang pertolongan pertama pada kecelakaan lalu lintas di SMA Cahaya Medan tahun 2025, secara khusus meliputi pengetahuan berdasarkan konsep pertolongan pertama, penanganan pingsan atau tidak sadarkan diri, penanganan luka dan perdarahan, serta penanganan patah tulang atau fraktur. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling. Populasi penelitian adalah 61 siswa kelas X-1 dan X-3 setelah dikurangi 5 siswa uji pendahuluan, dengan seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner adaptasi terdiri dari 20 pertanyaan terbagi dalam empat indikator dengan masing-masing 5 soal, menggunakan kategorisasi baik (16-20), cukup (12-15), dan kurang (0-11). Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat dan disajikan dalam distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan remaja secara keseluruhan sangat baik dengan 98,4% berpengetahuan baik dan 1,6% berpengetahuan cukup. Secara spesifik, pengetahuan konsep pertolongan pertama mencapai 96,7% baik, penanganan pingsan 91,8% baik, penanganan luka dan perdarahan 98,4% baik, dan penanganan patah tulang atau fraktur 91,8% baik. Karakteristik demografi menunjukkan mayoritas responden perempuan 63,9%, usia 15 tahun sebesar 78,7%, dengan distribusi seimbang antara kelas X-1 dan X-3. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa pengetahuan remaja tentang pertolongan pertama kecelakaan lalu lintas di SMA Cahaya Medan berada pada kategori sangat baik yang dipengaruhi oleh edukasi kesehatan, keaktifan dalam kegiatan Palang Merah Remaja, akses informasi media sosial, dan tingkat pendidikan yang mendukung kemampuan kognitif, sehingga perlu dipertahankan melalui program edukasi kesehatan berkelanjutan.