Fenomena krisis mentalitas yang melanda manusia modern menunjukkan adanya disorientasi nilai dan kekosongan spiritual. Perkembangan teknologi dan budaya materialistik mendorong manusia kehilangan keseimbangan antara aspek rasional dan spiritual dalam kehidupannya. Dalam konteks ini, spiritualitas Islam hadir sebagai tawaran konseptual yang menekankan pada penyucian jiwa dan pembinaan moral. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep filsafat jiwa menurut al-Raghib al-Ashfahani dan relevansinya terhadap solusi krisis mentalitas kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis kepustakaan (library research), yaitu dengan menelaah karya utama al-Raghib al-Ashfahani, al-Dzari‘ah ila Makarim al-Syari‘ah, serta literatur pendukung terkait filsafat Islam dan psikologi spiritual. Hasil analisis menunjukkan bahwa al-Raghib al-Ashfahani memandang jiwa sebagai esensi manusia yang terdiri atas tiga dimensi: rasional (nafs nathiqah), amarah (nafs ghadhabiyyah), dan syahwat (nafs syahwaniyyah). Krisis mentalitas terjadi ketika keseimbangan antara ketiga unsur tersebut terganggu dan dorongan rendah menguasai jiwa. Solusi yang ditawarkan adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), yaitu proses spiritual untuk mengembalikan fitrah manusia melalui pengendalian nafsu, penajaman akal, dan penyinaran hati dengan nilai-nilai ilahi. Dengan demikian, filsafat jiwa al-Raghib al-Ashfahani memberikan kontribusi penting dalam membangun paradigma spiritualitas Islam yang relevan bagi penyembuhan krisis mentalitas manusia modern.