Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pola Komunikasi Politik Generasi Z di Era Digital: Analisis Kritis Melalui Perspektif Teori Ruang Publik Jurgen Habermas Roy Saiful Annaz; Patrick Jhonson; Bayu Firdaus; Azmii Fauzaan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7878

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan signifikan dalam pola komunikasi politik Generasi Z. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, Generasi Z memanfaatkan platform media sosial seperti TikTok dan Instagram tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang utama untuk memperoleh informasi politik, mengekspresikan pandangan, serta berpartisipasi dalam diskursus publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi politik Generasi Z di media sosial melalui perspektif teori ruang publik Jurgen Habermas, khususnya dalam menilai kualitas diskursus rasional di ruang publik digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana kritis. Data dikumpulkan melalui observasi daring terhadap konten dan interaksi politik di media sosial, wawancara dengan informan Generasi Z berusia 18–25 tahun yang aktif mengikuti isu politik, serta kajian literatur terkait komunikasi politik digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial menyediakan ruang partisipasi politik yang relatif terbuka dan memperluas keterlibatan Generasi Z dalam isu-isu publik. Namun, komunikasi politik yang berlangsung masih didominasi oleh respons emosional, penggunaan simbol visual, serta partisipasi yang bersifat cepat dan simbolik. Pertukaran argumen yang rasional, reflektif, dan mendalam sebagaimana ideal dalam konsep ruang publik Habermas masih terbatas. Selain itu, algoritma media sosial turut memengaruhi arus informasi dan membentuk ruang diskusi yang homogen, sehingga berpotensi memperkuat polarisasi. Dalam perspektif teori ruang publik, kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi ruang publik digital dari arena dialog deliberatif menuju ruang ekspresi identitas politik. Meskipun demikian, media sosial tetap memiliki potensi besar sebagai ruang publik alternatif apabila didukung oleh peningkatan literasi digital, etika komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis Generasi Z.