Permukiman tepi sungai berisiko banjir sering dipersepsikan sebagai kawasan yang tidak layak huni dan menjadi prioritas relokasi, namun pada kenyataannya banyak masyarakat tetap bertahan dan membangun hubungan yang kuat dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep sense of place pada masyarakat yang bermukim di permukiman tepi Kali Angke, Kota Tangerang, dengan meninjau tiga dimensi utama, yaitu place identity, place attachment, dan place dependence. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif melalui kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan di Kelurahan Pedurenan dan Kelurahan Pinang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki sense of place yang tergolong tinggi meskipun berada pada kawasan dengan tingkat kerawanan banjir yang tinggi, dengan place dependence sebagai dimensi yang paling dominan, diikuti oleh place attachment dan place identity. Ketergantungan masyarakat terhadap tempat tinggalnya dipengaruhi oleh kemudahan akses fasilitas, peluang ekonomi, keterjangkauan biaya hidup, serta kuatnya jaringan sosial. Pengalaman hidup jangka panjang dan pengalaman kolektif menghadapi banjir membentuk identitas dan keterikatan emosional yang kuat, didukung oleh berbagai bentuk adaptasi fisik dan sosial yang memperkuat ketahanan masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa sense of place tidak selalu melemah dalam kondisi kerentanan lingkungan, tetapi justru dapat terbentuk dan menguat melalui proses adaptasi dan ketahanan sosial, sehingga memberikan implikasi penting bagi perencanaan wilayah dan tata ruang kawasan permukiman tepi sungai berisiko banjir agar lebih adaptif bencana.