Husnul Hamidah
Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Bangil

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KEKERASAN SIMBOLIK DALAM NOVEL MIDAH SI MANIS BERGIGI EMAS KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER : ANALISIS WACANA KRITIS PERSPEKTIF PIERRE BOURDIEU Husnul Hamidah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam novel Midah Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer melalui teori kekerasan simbolik Pierre Bourdieu dengan pendekatan analisis wacana kritis. Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1954 ini menyajikan potret kompleks dominasi patriarkal melalui mekanisme kekerasan simbolik yang dialami protagonis Midah sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis teks untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kekerasan simbolik, mekanisme operasionalnya, dan dampaknya terhadap konstruksi identitas perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan simbolik dalam novel ini beroperasi melalui tiga mekanisme utama: pertama, dominasi melalui institusi keluarga yang melegitimasi subordinasi perempuan dalam struktur patriarkal; kedua, normalisasi kekerasan melalui praktik religius dan kultural yang mengkonstruksi perempuan sebagai objek; dan ketiga, internalisasi dominasi melalui doxa yang membuat perempuan menerima posisi subordinat mereka sebagai hal yang alamiah. Temuan ini mengungkapkan bahwa Pramoedya Ananta Toer berhasil mengkritik struktur sosial patriarkal melalui penggambaran perjalanan hidup Midah yang menunjukkan resistensi sekaligus terperangkap dalam siklus kekerasan simbolik. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman representasi kekerasan gender dalam sastra Indonesia dan relevansinya dengan kondisi sosial perempuan Indonesia pada era kolonial yang masih bergema hingga kontemporer