Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat paparan pendidikan seksual pada anak dan remaja serta hubungannya dengan perilaku seksual berisiko di lingkungan pendidikan. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang krusial, ditandai dengan perubahan biologis dan psikologis yang meningkatkan rasa ingin tahu terhadap seksualitas. Namun, keterbatasan akses terhadap pendidikan seksual yang akurat sering mendorong remaja untuk mencari informasi dari sumber yang tidak terverifikasi, sehingga berpotensi memicu perilaku seksual berisiko. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan kuesioner sebagai instrumen utama pengumpulan data. Data dikumpulkan melalui survei daring menggunakan Google Forms yang disebarkan kepada pelajar dan remaja berusia 14–23 tahun di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Jumlah responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini sebanyak 162 orang. Kuesioner mengukur tingkat paparan pendidikan seksual, sumber informasi yang diperoleh, serta intensitas perilaku seksual berisiko, termasuk konsumsi pornografi dan aktivitas seksual pranikah. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah menerima pendidikan seksual dari orang tua atau sekolah, dengan 55,0% tergolong memiliki tingkat paparan tinggi, 30,2% paparan sedang, dan 14,8% paparan rendah. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara tingkat paparan pendidikan seksual dan perilaku seksual berisiko. Remaja dengan tingkat pendidikan seksual yang lebih rendah cenderung memiliki kecenderungan lebih tinggi dalam mengakses konten pornografi serta terlibat dalam aktivitas seksual dini. Kesimpulan, pendidikan seksual memiliki peran penting dalam menurunkan perilaku seksual berisiko pada remaja. Pendidikan seksual yang memadai dan konsisten dapat berfungsi sebagai faktor protektif dalam proses perkembangan remaja, sedangkan paparan yang tidak mencukupi meningkatkan kerentanan terhadap perilaku seksual yang merugikan. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan program pendidikan seksual komprehensif baik di lingkungan keluarga maupun institusi pendidikan.