Prevalensi hipertensi di Indonesia masih tergolong tinggi dan berdampak pada kualitas hidup pasien. Di RSD A Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung tahun 2024 ditemukan beberapa pasien hipertensi mengalami kecemasan akibat tekanan darah yang tidak terkontrol serta kekhawatiran terhadap komplikasi penyakit. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat digunakan untuk menurunkan kecemasan adalah teknik relaksasi nafas dalam, yaitu latihan pernapasan terkontrol untuk memberikan efek relaksasi fisiologis dan psikologis. Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui asuhan keperawatan dengan fokus pada penurunan kecemasan melalui teknik relaksasi nafas dalam pada pasien hipertensi di RSD A Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses asuhan keperawatan pada satu pasien (Ny. R) yang mengalami hipertensi dengan tingkat kecemasan sedang dan bersedia menjadi responden. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi langsung, pemeriksaan fisik, dan studi literatur. Masalah keperawatan yang ditegakkan adalah ansietas berhubungan dengan kekhawatiran mengalami kegagalan. Intervensi difokuskan pada terapi relaksasi nafas dalam yang dilakukan selama 3 hari dengan frekuensi 3–4 kali dalam satu kali pertemuan. Berdasarkan pengkajian, Ny. R dengan keluhan cemas, gelisah, sulit tidur, dan khawatir akan kondisi penyakitnya. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan adalah ansietas. Intervensi berupa terapi relaksasi nafas dalam dilaksanakan secara terstruktur selama 3 hari dengan keterlibatan aktif pasien. Evaluasi menunjukkan penurunan signifikan tingkat kecemasan, dari skor 65 menjadi 35 pada hari ketiga, pasien tampak lebih tenang, mampu mengontrol emosi, serta tekanan darah lebih stabil. Disarankan pasien melanjutkan latihan secara mandiri dan perawat menjadikan intervensi ini sebagai rujukan dalam pelayanan keperawatan hipertensi.