Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Model Digital Public Relation Community Tourism dalam Pemberdayaan Pariwisata Glamping di Malang Dreamland Teguh Hidayatul Rachmad; Yohanes Probo Dwi Sasongko
Journal of Communication in Tourism, Culture and Education Vol. 1 No. 2: July - December 2025
Publisher : Institut Nurul Islam Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52620/jctce.v1i2.144

Abstract

The presence of digital public relations has a very important role in advancing the economy of a business sector. A significant contribution in implementing digital public relations can be seen from the increasingly widespread and mushrooming use of companies on social media. The Malang Dreamland tourist attraction is one of the tourist attractions that fully utilizes the role of technology by presenting digital public relations community tourism to the community. The orientation that we want to present is the creation of an image and brand that exists in society in a positive way. The digital public relations activities carried out by the Malang Dreamland tourist attraction are also based on developments over time and very complex market needs. So, by building a model for business development in the tourism sector by optimizing the role and existence of digital public relations at the Malang Dreamland tourist attraction, it is hoped that it will be able to continue to develop the market and create awareness among the public and tourists, both nationally and internationally, to develop and increase tourism development. in the country, especially in Malang, East Java.
Media Advertising dan Budaya Masyarakat Jakarta Di Tahun Politik 2024 Teguh Hidayatul Rachmad; Yohanes Probo Dwi Sasongko
CommLine Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/cl.v11i1.5116

Abstract

Perkembangan masyarakat dan kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan.  Penyelenggaraan pesta demokrasi dalam hal pemilu, menjadi budaya yang didalam usaha mewujudkan dan menghadirkan pesta rakyat tersebut dapat berjalan sesuai dengan hukum serta undang- undang yang berlaku. Memilih pemilih yang baik patut dikenalkan secara signifikan oleh penyelenggara pemilu maupun partai- partai yang mengusung para calon pemimpin tersebut. Melalui adanya kesadaran dan pengetahuan yang baik dalam memanfaatkan teknologi sebagai media untuk menyebarkan infromasi dan pengetahuan bagi masyarakat, menjadikan pemanfaatan komunikasi jaringan dalam masyarakat menjadi penting. Lebih jauh Manuel castells, menyadari bahwa keterhubungan antara kelompok masyarakat yang satu dan yang lainnya dalam menghadirkan penyelenggaraan pesta demokrasi ini berjalan baik, menghemat biaya dan dapat menghindari praktik- praktik korupsi. Maka, menjadi penting bagi setiap individu yang ikut pemilu nanti paham benar siapa sosok atau tokoh, terutama di Jakarta, untuk berani memilih pemimpin yang baik,benar dan bertanggung jawab secara penuh dalam tugas dan pelaksana amanat rakyat tersebut.
Diskursus Rasisme pada Stratafikasi Status Sosial dalam Perspektif Komunikasi Antar Budaya Teguh Hidayatul Rachmad; Yohanes Probo Dwi Sasongko
Journal of Communication Research Vol. 1 No. 2 (2025): October
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jcr.v1i2.188

Abstract

Keberagaman budaya dan agama yang ada pada masyarakat Indonesia menuntut adanya toleransi antar umat beragama yang semakin penting untuk diperkuat. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan agama seperti pesantren memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Artikel ini membahas peran Pesantren Sunan Kalijogo Malang dalam mengajarkan nilai-nilai toleransi beragama di tengah masyarakat yang penuh dengan keberagaman. Fokus utama kajian ini adalah pada strategi pesantren mengimplementasikan ajaran Islam yang menekankan pentingnya saling menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara damai. Penelitian ini berusaha untuk menggali motivasi pesantren dalam mengajarkan toleransi, serta metode yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada santri. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam. Strategi ini dilakukan oleh pihak pesantren tidak hanya memberikan pendidikan agama Islam, tetapi juga menciptakan ruang bagi santri untuk memahami dan menerima keberagaman dalam kehidupan sosial mereka. Implementasi komunikasi multikultural di pesantren ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan agama dapat berperan penting dalam menciptakan santri yang inklusif dan toleran, serta menjaga keharmonisan di tengah masyarakat yang multikultural. Penelitian ini memberikan bukti bahwa pendidikan berbasis agama dapat mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih damai dan bersatu. Acts of racial discrimination in Indonesia are still relatively high and vulnerable. In the midst of cultural diversity and complex lifestyles, the potential for division is very vulnerable. Ethnic diversity in Indonesia presents two different things. On the one hand, we can see that with diversity, it becomes a source of cultural wealth and national identity. However, on the other hand, the existing cultural wealth can present a dilemma. The presence of diversity in our society has many influences on all aspects of community life that differ from one group to another. This fundamental difference can be seen in the interaction patterns they live in, when they dialogue with each other to convey messages or as a form of expression to fulfill their needs.  The existence of the Batak Tribe and the Sundanese Tribe, which are part of the majority community group, is a clear example of a community that has differences in speech intonation that must be considered in its delivery. We can see that the majority of Indonesian people consider that the Batak tribe is known as a group of people who have characters as brave, assertive, and like to speak in a loud tone. This situation is inversely proportional to the Sundanese tribe. Sundanese people are considered to have friendly, polite, and soft-spoken characters. These differences in characteristics often cause conflict or problems when communicating interpersonally. Through intercultural communication studies, it can solve the problem of hate speech in this study. Samovar, Poter and Daniel have intercultural communication concepts that can be a solution to the conflicts that often occur.  The result that can be found is that by recognising the context of intercultural communication that exists in heterogeneous societies, it is hoped that people will be able to accept cultural diversity, especially regarding hate speech. Another thing that can be produced, namely the existence of a bridge for the creation of knowledge exchange to understand the existence of other cultures that live outside their society.