Ameliana Nurahmi
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reputasi sebagai Aset Spiritual dan Sosial: Urgensi Branding Lembaga Pendidikan Islam dalam Menjawab Tuntutan Zaman Ameliana Nurahmi; Supratman Zakir
Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol 1 No 2 (2025): Al-Afkar: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam
Publisher : PT. AKSARA AKADEMIA INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.0111/afkar.v1i2.73

Abstract

Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan globalisasi telah menuntut lembaga pendidikan Islam untuk beradaptasi dengan paradigma baru dalam pengelolaan citra dan reputasi. Reputasi tidak hanya menjadi simbol pengakuan sosial, tetapi juga mencerminkan nilai spiritual yang melekat pada lembaga tersebut. Perubahan sosial, budaya, dan teknologi di era modern menuntut lembaga pendidikan Islam untuk beradaptasi secara strategis agar tetap relevan dan kompetitif. Salah satu strategi penting yang perlu dikembangkan adalah branding lembaga pendidikan Islam. Branding bukan hanya sekadar upaya memperkuat citra institusi di mata publik, tetapi juga menjadi sarana untuk menegaskan identitas, nilai-nilai spiritual, dan keunggulan khas lembaga pendidikan Islam di tengah arus globalisasi dan sekularisasi pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya reputasi sebagai aset spiritual dan sosial serta urgensi branding bagi lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi dinamika modernitas. Melalui Metode perpustakaan (library research) dan menggunakan pendekatan Analisis deskriptif dengan studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa reputasi lembaga pendidikan Islam harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, amanah, dan kebermanfaatan sosial. Branding yang kuat dan autentik menjadi media untuk memperkuat kepercayaan publik, memperluas jaringan sosial, serta menjaga eksistensi lembaga dalam kompetisi global. Dengan demikian, branding bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi merupakan representasi nilai spiritual dan sosial yang menjadi identitas khas lembaga pendidikan Islam
Religious Moderation in the Digital Era: Strengthening Social Tolerance amid Digital Diversity Ameliana Nurahmi; Zulvia Rahmi; Rohadatul Aisi; Iswantir M; Yulia Rahman
Ahlussunnah: Journal of Islamic Education Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : STIT Ahlussunnah Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58485/jie.v5i1.646

Abstract

Religious moderation has become increasingly important in addressing the challenges of contemporary social life shaped by digital technology, rapid information exchange, and intensified intercultural and interreligious interactions. This study examines the role of religious moderation in fostering tolerance amid digital diversity and explores the challenges posed by the spread of intolerant, provocative, and radical content on digital platforms. Employing a qualitative library research design with a content analysis approach, data were collected from scholarly journals, books, policy documents, and other relevant literature on religious moderation and digital social dynamics. The findings indicate that religious moderation contributes significantly to promoting social harmony through the reinforcement of tolerance, interfaith dialogue, inclusivity, and responsible digital literacy. The study also reveals that hate speech, social polarization, misinformation, and the misuse of social media constitute major obstacles to the development of tolerant digital communities. Furthermore, effective implementation of religious moderation requires collaborative efforts among educational institutions, governments, religious leaders, and civil society organizations. The study concludes that religious moderation serves as a critical framework for strengthening social cohesion, preserving national unity, and fostering peaceful coexistence within increasingly diverse digital societies.