Silitonga, Rion Androfen
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Disabilitas dalam Imago Dei dan Imago Christi: Teologi, Inklusi, dan Keadilan Silitonga, Rion Androfen
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v6i2.319

Abstract

Disability is a complex phenomenon that involves various aspects of life, including physical, cognitive, and psychiatric. From a Christian theological perspective, disability is often viewed through a challenging lens, either as a test, a suffering, or a symbol of sin. However, this understanding often ignores the dignity and rights of people with disabilities as creatures made in the image of God (Imago Dei). Through theological thinking such as that promoted by Augustine and Jurgen Moltmann, disability can be understood as part of God's greater plan, which demands recognition, respect, and proper care. Inclusive theology, as reflected in 1 Corinthians 12, emphasizes the active role of every member of the body of Christ, including people with disabilities, in the community of faith. The social stigma of disability, both physical and mental, is a major obstacle to social inclusion, but through a deeper understanding of Imago Dei and Imago Christi, churches and communities can create more inclusive and loving spaces for people with disabilities.Disabilitas merupakan fenomena kompleks yang melibatkan berbagai aspek kehidupan, termasuk fisik, kognitif, dan psikiatris. Dalam perspektif teologi Kristen, disabilitas sering dipandang melalui lensa yang penuh tantangan, baik sebagai ujian, penderitaan, maupun simbol dosa. Namun, pemahaman ini sering kali mengabaikan martabat dan hak-hak penyandang disabilitas sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei). Melalui pemikiran teologis seperti yang diusung oleh Agustinus dan Jurgen Moltmann, disabilitas dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Allah yang lebih besar, yang menuntut pengakuan, penghormatan, dan perawatan yang layak. Teologi inklusif, seperti yang tercermin dalam 1 Korintus 12, menekankan peran aktif setiap anggota tubuh Kristus, termasuk penyandang disabilitas, dalam komunitas iman. Stigma sosial terhadap disabilitas, baik fisik maupun mental menjadi hambatan besar bagi inklusi sosial, namun melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang Imago Dei dan Imago Christi, gereja dan masyarakat dapat menciptakan ruang yang lebih inklusif dan penuh kasih bagi penyandang disabilitas.