This Author published in this journals
All Journal PM360 Derajat
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

EKSPLORASI PERSEPSI DAN TANTANGAN KADER DALAM MELAKUKAN TES BISIK SEBAGAI DETEKSI DINI GANGGUAN PENDENGARAN DI POSYANDU PADEMANGAN Kurniati, Tira
Jurnal Pengabdian Masyarakat 360 Derajat Vol 2 No 2 (2025): Pengabdian Masyarakat 360 Derajat
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/ctwyqv79

Abstract

Gangguan pendengaran merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sering tidak terdeteksi dini, terutama pada lansia, dan berdampak pada kualitas hidup serta fungsi sosial. Keterbatasan fasilitas THT di layanan primer mendorong perlunya metode skrining sederhana yang dapat dilakukan kader kesehatan. Tes bisik dipandang sebagai metode praktis, murah, dan berpotensi digunakan dalam skrining berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman kader Posyandu dalam melaksanakan tes bisik serta mengidentifikasi hambatan dan persepsi yang muncul dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan desain kualitatif di Posyandu Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, pada Juni–Juli 2025. Subjek penelitian adalah kader Posyandu yang telah mendapatkan pelatihan pelaksanaan tes bisik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non- partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan kader menilai tes bisik mudah dilakukan dan dapat diterima oleh lansia, namun pelaksanaan sering terhambat oleh keterbatasan ruang, kondisi lingkungan yang bising, belum adanya daftar kata bisik baku, serta keterbatasan sarana. Observasi juga memperlihatkan adanya adaptasi kader, seperti mengintegrasikan tes bisik dengan pemeriksaan lansia meski tidak sepenuhnya sesuai standar WHO. Kader menekankan pentingnya pelatihan ulang dan dukungan teknis untuk meningkatkan keterampilan. Temuan ini menunjukkan bahwa tes bisik berpotensi menjadi metode skrining gangguan pendengaran yang layak diterapkan di komunitas. Keberhasilan implementasi membutuhkan dukungan berupa standar operasional, ruang khusus, sarana prasarana yang memadai, serta supervisi berkelanjutan.