Sinaga, Tinggi Marojahan
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Grey Zone Escalation: How China’s Hybrid Warfare is Reshaping Taiwan’s Security Sinaga, Tinggi Marojahan
Insignia: Journal of International Relations Vol 12 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.ins.2025.12.2.19396

Abstract

AbstractGrey-zone conflict and hybrid warfare have become increasingly prominent forms of strategic competition in the Indo-Pacific region, particularly in cross-strait relations. Unlike conventional conflicts marked by open warfare, grey-zone strategies operate below the threshold of war through ambiguous, incremental, and multi-domain coercive actions. In the context of Taiwan, China's pressure extends beyond military demonstrations to include information operations, cyberattacks, economic coercion, and maritime activities aimed at undermining political stability and weakening overall security resilience. This evolving environment suggests that Taiwan's security challenges have become more complex. This study examines two key issues: (1) how China's grey-zone strategy and hybrid warfare shape Taiwan's national security policies, and (2) the dominant forms of China's hybrid warfare tactics within grey-zone operations and their implications for Taiwan's security stability. The author employs a qualitative, descriptive-analytical approach, focusing on Taiwan. Moreover, data were collected through document-based research and media tracking, official statements, credible international news sources, and relevant academic literature. The data were analysed using Miles and Huberman's qualitative data analysis framework, which comprises data reduction, data display, and conclusion drawing and verification, to ensure a comprehensive analysis. The findings suggest that China's grey-zone escalation has driven significant adjustments in Taiwan's security policy, shifting from a primarily conventional defense orientation toward a broader framework of comprehensive security and national resilience. This shift is reflected in Taiwan's increasing emphasis on cybersecurity, counter-disinformation measures, and critical infrastructure protection. Moreover, information operations, cyber pressure, and military exercises emerge as the most dominant hybrid tactics employed by China. These tactics intensify the complexity of Taiwan's security environment, affecting both national defense priorities and socio-political resilience. In conclusion, China's grey-zone and hybrid warfare strategies function not only as coercive instruments but also as mechanisms that gradually reshape Taiwan's security agenda. Keywords: Cross-Strait Relations, Grey Zone Strategy, Hybrid Warfare, Taiwan's Security, Cybersecurity AbstrakFenomena konflik grey-zone dan hybrid warfare semakin menonjol sebagai bentuk kompetisi strategis di kawasan Indo-Pasifik, khususnya dalam hubungan lintas selat (cross-strait relations) antara Cina dan Taiwan. Berbeda dengan konflik konvensional yang ditandai dengan perang terbuka, strategi grey-zone beroperasi di bawah ambang perang melalui tindakan koersif yang bersifat ambigu, bertahap, dan multidomain. Dalam konteks Taiwan, tekanan China tidak hanya terbatas pada demonstrasi kekuatan militer, tetapi juga mencakup operasi informasi, serangan siber, koersi ekonomi, serta aktivitas maritim yang bertujuan melemahkan stabilitas politik dan ketahanan keamanan Taiwan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan keamanan Taiwan telah bergeser menuju “era normal baru” yang semakin kompleks. Penelitian ini menganalisis dua isu utama, yaitu: (1) bagaimana strategi grey-zone dan hybrid warfare China membentuk kebijakan keamanan nasional Taiwan, serta (2) bentuk-bentuk taktik hybrid warfare China dalam operasi grey-zone terhadap Taiwan dan implikasinya terhadap stabilitas keamanan Taiwan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dengan berfokus pada Taiwan. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan media tracking, yang mencakup dokumen kebijakan, pernyataan resmi, sumber berita internasional, serta literatur akademik yang relevan. Data dianalisis menggunakan kerangka analisis kualitatif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan untuk menghasilkan analisis yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eskalasi strategi grey-zone China mendorong penyesuaian signifikan dalam kebijakan keamanan Taiwan, dari orientasi pertahanan konvensional menuju kerangka keamanan komprehensif berbasis ketahanan nasional. Perubahan ini tercermin dalam meningkatnya perhatian Taiwan terhadap keamanan siber, kebijakan kontra-disinformasi, dan perlindungan infrastruktur kritis. Selain itu, operasi informasi, tekanan siber, dan latihan militer muncul sebagai taktik hibrida paling dominan yang digunakan China. Taktik tersebut memperbesar kompleksitas ancaman keamanan Taiwan, baik pada aspek pertahanan nasional maupun ketahanan sosial-politik. Dengan demikian, strategi grey-zone dan hybrid warfare China berfungsi tidak hanya sebagai instrumen tekanan, tetapi juga sebagai mekanisme yang secara gradual membentuk ulang agenda keamanan Taiwan.