Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran ketersediaan arus kas bebas dan praktik keberlanjutan perusahaan dalam menentukan kebijakan dividen, dengan mempertimbangkan leverage sebagai faktor yang berpotensi memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut. Kajian ini difokuskan pada 18 perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019–2024. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan dan laporan keberlanjutan perusahaan. Melalui teknik purposive sampling, diperoleh sebanyak 108 observasi yang dianalisis. Kebijakan dividen direpresentasikan oleh Dividend Payout Ratio, sementara FCF diukur berdasarkan arus kas bebas dikurangi belanja modal perusahaan. Pengungkapan ESG dinilai melalui indeks berbasis content analysis, dan leverage diproksikan menggunakan Long Term Debt to Equity Ratio. Pengujian empiris dilakukan menggunakan regresi linier berganda dan Moderated Regression Analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa FCF berperan penting dalam menjelaskan kebijakan dividen, di mana perusahaan dengan arus kas bebas yang lebih besar cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membagikan dividen kepada pemegang saham. Sebaliknya, pengungkapan ESG belum menunjukkan keterkaitan yang signifikan dengan kebijakan dividen. Lebih lanjut, leverage terbukti memengaruhi hubungan antara FCF dan kebijakan dividen, namun tidak berperan dalam hubungan antara ESG dan kebijakan dividen. Temuan ini menegaskan bahwa keputusan pembagian dividen pada perusahaan LQ45 masih lebih banyak ditentukan oleh kondisi keuangan internal dibandingkan aspek keberlanjutan perusahaan.