This study aims to explore the integration of Indonesian language learning models through the integration of the Perennialism philosophy and the Love-Based Curriculum (KBC) framework. The main issue raised is the dichotomy in modern education that tends to prioritize linguistic technical competence while ignoring the deepening of character and the depth of philosophical meaning. Using a descriptive qualitative method through literature study, this study explores the synergy between critical reasoning (logos) and affective empathy (pathos). The results show that the KBC model is able to position Indonesian canonical literary texts as instruments for internalizing eternal values (Panca Cinta) through the Socratic Dialogue and Empathy Project methodologies. This synthesis offers a solution for the development of a holistic curriculum, where Indonesian functions not only as a means of communication, but also as a vehicle for the formation of wise and morally integrity human beings in the contemporary era.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggali integrasi model pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui integrasi filosofi Perenialisme dan kerangka Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Masalah utama yang diangkat adalah adanya dikotomi dalam pendidikan modern yang cenderung memprioritaskan kompetensi teknis linguistik namun mengabaikan pendalaman karakter dan kedalaman makna filosofis. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, penelitian ini mengeksplorasi sinergi antara nalar kritis (logos) dan empati afektif (pathos). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model KBC mampu memposisikan teks sastra kanon Indonesia sebagai instrumen internalisasi nilai-nilai abadi (Panca Cinta) melalui metodologi Dialog Sokratik dan Proyek Empati. Sintesis ini menawarkan solusi bagi pengembangan kurikulum yang holistik, di mana Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai wahana pembentukan manusia yang bijaksana dan memiliki integritas moral di era kontemporer.