Anatasya, Andira Maharani
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Framing Bahasa dalam Pemberitaan Isu Kasus Beras Oplosan di Detik.com: Analisis Model Pan dan Kosicki Anatasya, Andira Maharani; S. Anshori, Dadang; Fuadin, Ahmad
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Edisi Januari-Februari
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7818

Abstract

Bahasa memiliki peran krusial dalam pemberitaan, khususnya berita dengan isu pangan, seperti beras. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan penggunaan bahasa yang membentuk framing positif dan negatif dalam pemberitaan isu kasus beras oplosan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cara Detik.com menggunakan bahasa dalam membingkai isu kasus beras oplosan menjadi sebuah berita yang dapat membentuk opini publik. Data penelitian berupa delapan berita terkait isu kasus beras oplosan yang diterbitkan Detik.com pada periode 17 Juli 2025 hingga 6 Agustus 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena digunakan untuk memahami makna yang dibangun media melalui pilihan dan penggunaan bahasa dalam teks pemberitaan isu kasus beras oplosan. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan simak catat. Analisis data dilakukan dengan kerangka framing Pan dan Kosicki yang meliputi struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com secara konsisten membingkai peristiwa beras oplosan sebagai pelanggaran serius yang berdampak negatif bagi masyarakat sebagai konsumen. Framing tersebut dibangun melalui pengunaan bahasa yang informatif, sensasional, dan dramatis sehingga membentuk opini publik yang cenderung meragukan kredibilitas produsen beras, sekaligus memaknai negara sebagai pihak yang hadir secara aktif dalam penanganan pelanggaran yang merugikan konsumen. Produsen dikonstruksikan sebagai aktor utama yang melakukan penyimpangan melalui kata atau frasa, seperti pengoplosan, pemalsuan label, permainan harga, modus, modus operandi, mengoplos, tiga pelanggaran sekaligus, dan tersangka. Sementara itu, pemerintah dan aparat penegak hukum diposisikan sebagai aktor yang responsif, solutif, dan korektif melalui kata atau frasa, seperti buka-bukaan, soroti, menyambut baik, komitmen, menjamin, pengecekan, penyitaan, rombak, dan menggodok. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada kajian wacana media serta menjadi refleksi bagi praktik jurnalistik agar penggunaan bahasa tetap menjunjung objektivitas dalam merepresentasikan realitas sosial. Selain itu, temuan yang dihasilkan juga diharapkan dapat memberikan pertimbangan bagi ruang kerja jurnalis, khususnya jurnalis Detik.com dalam meliput dan menulis pemberitaan terkait isu pangan.