Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMERTAHANAN NILAI-NILAI ADAT SEULANGKE DI ERA MELUASNYA BUDAYA ASING (STUDI KASUS PADA PERSEPSI GENERASI Z DI DESA PUUK, KECAMATAN KEMBANG TANJONG, KABUPATEN PIDIE) Abizar, Syawal; Saputri, Yuni; Fahrizal, Fahrizal
Education Enthusiast : Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol 6, No 1 (2026): Vol 6 No 1 (2026): February
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi perkawinan Seulangke, mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam mempertahankan tradisi tersebut di tengah arus modernisasi dan globalisasi, serta menggali persepsi Generasi Z di Desa Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie terhadap nilai-nilai tradisi Seulangke. Tradisi Seulangke merupakan bagian dari adat perkawinan masyarakat Aceh yang memiliki nilai sosial, agama, dan budaya yang tinggi, di mana seorang Seulangke bertindak sebagai perantara dalam proses perjodohan dan lamaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seulangke tidak hanya memiliki fungsi sosial sebagai penghubung dua keluarga, tetapi juga mengandung nilai-nilai agama dalam menjaga etika pergaulan serta menjadi sarana pelestarian budaya lokal. Namun, tradisi ini menghadapi tantangan serius akibat perubahan gaya hidup, melemahnya regenerasi tokoh adat, dan melemahnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai budaya. Meskipun demikian, masih terdapat peluang pelestarian melalui lembaga adat dan pendidikan informal. Persepsi Generasi Z terhadap Seulangke terbagi: pelajar cenderung memahami dan menghargai tradisi ini, sedangkan pelajar SMA memandangnya sebagai sesuatu yang kuno dan tidak praktis. Oleh karena itu, pendekatan edukatif dan adaptif diperlukan agar tradisi Seulangke tetap hidup dan relevan di masa kini.