Rendahnya tingkat pemahaman keuangan di Indonesia, yang tercermin pada indeks 49,68% di tahun 2022 menurut OJK, mengakibatkan sikap belanja berlebihan di kalangan siswa SMK dalam pengaturan uang saku tanpa adanya penyisihan untuk menabung. Kondisi ini diperburuk oleh perkembangan era Society 5.0 yang ditandai dengan meningkatnya transaksi digital secara impulsif. Program pengabdian masyarakat yang diberi nama “Smart Saving for Students” bertujuan untuk memperbaiki kemampuan literasi keuangan bagi 18 siswa SMK Pelita Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung melalui pendidikan tentang konsep dasar akuntansi, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta penggunaan dompet digital untuk menabung secara efektif. Penelitian ini mengambil pendekatan partisipatif dan edukatif dengan menggunakan metode campuran: pre-post test menggunakan Quizizz sebanyak 20 soal, ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan observasi partisipasi yang dilakukan pada tanggal 21 Oktober 2025. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, meliputi rata-rata skor dan distribusi frekuensi, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan pendekatan tematik dari tanggapan siswa. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dari rata-rata pre-test sebesar 84,44 (dalam rentang 70-90) menjadi post-test yang mencapai 97 (dalam rentang 70-100), di mana 83,33% siswa berhasil mendapatkan skor sempurna. Perubahan dalam distribusi nilai memperlihatkan pergeseran dari 55,56% pada nilai 90 menjadi 83,33% pada nilai 100, yang menegaskan efektivitas metode hybrid dalam meningkatkan kendali perilaku yang dianggap baik dalam menabung sesuai dengan Theory of Planned Behavior (Lusardi & Mitchell, 2013). Dari sudut pandang kualitatif, 95% siswa terlibat aktif dalam program ini dan 89% dari mereka berkomitmen untuk menyisihkan 20% dari uang saku mereka untuk ditabung secara digital. Program ini mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) 4 yang fokus pada pendidikan berkualitas dan 8 terkait pekerjaan layak, serta merekomendasikan integrasi kurikulum di SMK dan pemantauan secara longitudinal selama enam bulan. Temuan ini menguatkan hipotesis bahwa pendidikan kontekstual dan literasi digital dapat efektif dalam mengurangi tingkah laku konsumtif di kalangan populasi vokasi berusia 16-17 tahun.