Penelitian ini bertujuan menganalisis paradoks antara surplus pangan nasional dan krisis nutrisi lokal yang terjadi di Kabupaten Merauke. Fokus permasalahan penelitian diarahkan pada ketimpangan antara peningkatan produksi beras melalui proyek lumbung pangan nasional dengan kondisi akses pangan dan kualitas gizi masyarakat lokal, khususnya masyarakat adat. Penelitian ini juga menelaah bagaimana kebijakan pangan berskala besar, sistem distribusi, serta alih fungsi lahan adat memengaruhi keberlanjutan sistem pangan lokal dan ketahanan gizi masyarakat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dengan menelaah artikel jurnal ilmiah, laporan kebijakan, data statistik resmi, serta dokumen digital yang relevan dengan isu pangan dan nutrisi di Merauke. Analisis data diperdalam menggunakan perspektif ekologi politik untuk memahami relasi kuasa negara, korporasi, dan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surplus produksi beras di Merauke tidak berbanding lurus dengan perbaikan status gizi masyarakat lokal. Ekspansi proyek pangan skala besar menyebabkan hilangnya sumber pangan tradisional, fragmentasi ruang hidup adat, serta pergeseran pola konsumsi menuju pangan pasar yang homogen dan rendah mikronutrien. Kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting dan anemia, terutama pada kelompok rentan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa krisis nutrisi di Merauke bukan disebabkan oleh kelangkaan pangan, melainkan oleh kegagalan sistemik dalam menjamin akses, keberagaman, dan kualitas pangan. Oleh karena itu, kebijakan ketahanan pangan perlu mengintegrasikan perlindungan hak ulayat, penguatan pangan lokal, dan pendekatan yang sensitif terhadap konteks sosial budaya masyarakat adat.