Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisa perspektif intelijen dalam mengantisipasi serangan senjata biologi melalui sistem surveillance kesehatan dan mengkaji faktor yang menghambat antisipasi serangan senjata biologi melalui sistem surveillance kesehatan dalam perspektif intelijen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI dan Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif intelijen dalam mengantisipasi serangan senjata biologi melalui penguatan sistem surveillance kesehatan melibatkan dua peran utama, yaitu deteksi dini dan pencegahan dini. Adapun fungsi intelijen terdiri dari penyelidikan, pengamanan dan penggalangan. Fungsi penyelidikan mencakup pemantauan teknologi, peringatan dini, pengembangan teknologi, edukasi, dan kerja sama antarlembaga. Fungsi pengamanan yang terkait dengan sistem surveillance kesehatan mencakup evaluasi kinerja sistem, pengakuan dan integrasi, koordinasi dan kerja sama, peningkatan kepekaan sistem surveillance, identifikasi penyakit baru dan rekayasa genetik, serta akurasi dan sensitivitas data. Sementara fungsi penggalangan intelijen dalam mengidentifikasi dan mengantisipasi potensi serangan senjata biologi termasuk peningkatan pemantauan, konsolidasi data, kolaborasi internasional, pengembangan teknologi, peningkatan keamanan laboratorium, pendidikan masyarakat, dan penyusunan rencana darurat. Faktor yang menghambat intelijen dalam mengantisipasi serangan senjata biologi melalui sistem surveillance kesehatan terdiri dari empat aspek yaitu aspek komunikasi meliputi kurangnya keselarasan interaksi, keterbatasan data, kurangnya koordinasi dan kurangnya kesadaran publik. Aspek sumber daya meliputi keterbatasan alat deteksi dan kemampuan analisis, kurangnya akses ke laboratorium, kemampuan analisis data yang terbatas, kesombongan intelektual dan kelalaian, kemampuan mengidentifikasi lokasi yang tepat dan ketergantungan pada data sisi tunggal. Aspek disposisi meliputi kompleksitas serangan biologi, karakter agensia biologi, kerjasama internasional, keamanan informasi kesehatan, kurangnya kesadaran dan pelatihan, tantangan teknis dan teknologi, serangan tertutup dan reaksi publik. Aspek struktur birokrasi meliputi perbedaan struktural, mengubah struktur, posisi yang belum jelas dan perubahan struktur yang diperlukan.