Fenomena karoshi atau kematian akibat kerja berlebihan merepresentasikan krisis eksistensial dalam budaya kerja Jepang kontemporer yang mengancam martabat fundamental manusia sebagai subjek rasional. Penelitian ini menganalisis representasi budaya kerja Jepang dalam serial televisi Hanzawa Naoki melalui kerangka etika deontologis Immanuel Kant untuk mengungkap kontradiksi antara imperatif kategoris penghormatan terhadap kemanusiaan dengan praktik karoshi yang terinstitusionalisasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis semiotika multimodal dengan kritik filosofis Kantian untuk mengeksplorasi bagaimana narasi sinematik menormalisasi eksploitasi sistemik terhadap pekerja. Temuan mengungkapkan bahwa meskipun drama tersebut mengekspos korupsi korporat, representasinya tetap melegitimasi Karoshi sebagai normalitas yang tak terhindarkan, melanggar Formula Kemanusiaan Kant dengan mereduksi pekerja menjadi instrumen produktivitas dan menghancurkan otonomi moral melalui struktur hierarkis rigid. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan diskursus interdisipliner tentang etika terapan, budaya visual, dan kritik terhadap kapitalisme lanjut, menawarkan fondasi konseptual bagi rekonstruksi kebijakan manajemen yang humanis.