Tingginya perputaran karyawan menjadi tantangan kritis bagi manajemen Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) swasta yang dituntut memberikan standar pelayanan premium di tengah dinamika emosional yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh beban kerja (workload) dan persepsi dukungan organisasi (Perceived Organizational Support/POS) terhadap intensi turnover, serta mengevaluasi peran mediasi keterikatan kerja (work engagement) pada karyawan medis dan non-medis. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada 100 responden di salah satu RSIA swasta di Jakarta Selatan. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil pengujian membuktikan bahwa beban kerja berpengaruh positif signifikan terhadap intensi turnover, sementara POS berpengaruh negatif signifikan. Temuan krusial penelitian ini mengungkapkan bahwa work engagement gagal memediasi hubungan antara beban kerja maupun POS terhadap intensi turnover. Artinya, tingginya engagement karyawan tidak serta-merta meredam keinginan keluar apabila tekanan beban kerja struktural terlalu berat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa manajemen rumah sakit harus memprioritaskan intervensi structural yakni penataan ulang beban kerja dan penguatan dukungan organisasi secara nyata sebagai strategi utama retensi karyawan, dibandingkan hanya mengandalkan pendekatan psikologis semata.