Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough pada Pemberitaan Isu Kekerasan Seksual di Universitas Jenderal Soedirman Dalam Detik.com Alaudin, Gholi; Wisnu Widjanarko; Nana Sutikna
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2858

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemberitaan Detik.com mengenai dugaan kekerasan seksual seorang guru besar di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui kerangka Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Data terdiri dari tiga artikel Detik: laporan awal tuduhan (“Heboh Guru Besar Unsoed Diduga Lakukan Kekerasan Seksual ke Mahasiswi”), respons rektorat (“Kata Rektorat soal Dugaan Kekerasan Seksual Guru Besar Unsoed ke Mahasiswi”), dan reaksi kampus terhadap kabar tersebut (“Saat Unsoed Diguncang Kabar Mahasiswi Jadi Korban Kekerasan Seksual Guru Besar”) (Detik.com, 24 Juli 2025). Melalui analisis tekstual, praktik wacana, dan praktik sosial-budaya, penelitian menemukan bahwa media menegaskan kontras kuasa antara pelaku akademik (“guru besar”) dan korban mahasiswa (“mahasiswi”), menggunakan modalitas kehati-hatian seperti “diduga” untuk menjaga kewaspadaan hukum sekaligus menyoroti urgensi publik. Pemberitaan memberi ruang legitimasi kepada berbagai aktor seperti mahasiswa, rektorat, dan Satgas PPKS yang menciptakan arena tuntutan moral dan institusional. Secara sosiokultural, wacana ini mencerminkan ideologi keadilan gender, akuntabilitas kampus, dan perlindungan korban, sekaligus menuntut transparansi prosedural dari institusi pendidikan tinggi. Media dalam kasus ini berfungsi tidak hanya sebagai pelapor peristiwa, tetapi juga sebagai agen moral yang mendorong transformasi budaya akademik dan struktur kuasa. Temuan penelitian menegaskan pentingnya mekanisme penanganan kekerasan seksual yang lebih kredibel dan sensitif gender serta peran media sebagai pendorong akuntabilitas institusi.