Abstrak Tradisi lelang singgang ayam merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang tetap hidup dan berkembang di Nagari Padang Limau Sundai dan Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan. Praktik ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian adat dan kegiatan keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme penguatan sosial dan ekonomi masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif, di mana penulis terlibat langsung sebagai panitia MTQ pada Maret 2025. Data penelitian diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi selama kegiatan berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi lelang singgang ayam tidak hanya dilaksanakan pada malam puncak MTQ Ramadan, tetapi juga menjadi bagian integral dari berbagai kegiatan nagari lainnya, seperti peringatan 17 Agustus, malam pergantian tahun, kegiatan keagamaan, serta acara adat yang melibatkan partisipasi luas masyarakat. Tradisi ini memfasilitasi terbangunnya solidaritas komunal, kepedulian sosial, serta pengumpulan dana kolektif untuk mendukung kegiatan keagamaan dan pembangunan sosial di nagari. Penelitian ini secara khusus menelaah pelaksanaan tradisi tersebut dalam perspektif bai’ muzayadah, yaitu mekanisme jual beli melalui sistem penawaran harga tertinggi yang sah menurut hukum ekonomi Islam. Kajian menunjukkan bahwa praktik lelang singgang ayam memenuhi unsur-unsur bai’ muzayadah seperti adanya transparansi harga, kompetisi penawaran yang sehat, kerelaan pihak-pihak yang terlibat (taradhi), serta kejelasan objek transaksi. Pelaksanaan lelang juga tidak mengandung unsur gharar atau penipuan, sehingga selaras dengan prinsip syariah sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, hadis, literatur fikih kontemporer, serta Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES). Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya berperan sebagai simbol identitas budaya, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi berbasis masyarakat yang adaptif, religius, dan tetap mempertahankan karakter lokal di tengah arus modernisasi. Kata Kunci: Bai’ Muzayadah, Lelang Singgang Ayam, Hukum Ekonomi Syariah, Kearifan Lokal. Abstract The tradition of auctioning singgang ayam (spiced grilled chicken) continues to thrive as a distinctive form of local wisdom in Nagari Padang Limau Sundai and Bidar Alam, Solok Selatan Regency. This practice not only accompanies customary and religious activities but also serves as a vital mechanism for strengthening social cohesion and community-based economic support. This study employs a qualitative field research approach, in which the researcher directly participated as a committee member of the Nagari MTQ in March 2025. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The findings reveal that the singgang ayam auction is conducted not only during the peak night of the Ramadan MTQ but also during various community events such as Independence Day celebrations, New Year’s Eve gatherings, religious programs, and customary ceremonies that involve broad public participation. The tradition fosters communal solidarity, enhances social responsibility, and mobilizes collective funds to support religious initiatives and social development within the nagari. This study particularly examines the practice through the framework of bai’ muzayadah, a form of sale by competitive bidding recognized in Islamic economic law. The analysis demonstrates that the singgang ayam auction fulfills the essential elements of bai’ muzayadah, including price transparency, healthy bidding competition, mutual consent (taradhi), and clarity of the object being sold. The process does not contain elements of gharar or fraud, aligning with Islamic legal principles as outlined in the Qur’an, hadith, contemporary fiqh literature, and the Compilation of Islamic Economic Law (KHES). Thus, the tradition serves not only as an expression of cultural identity but also as a community-based economic instrument that is adaptive, religiously grounded, and capable of preserving local values amid modern societal transformation. Keywords: Bai’ Muzayadah, Singgang Chicken Auction, Islamic Economic Law, Local Wisdom.