Pabendan, Sumbu Surgia
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kohesi Kepemimpinan Daud dan Kejatuhannya: Analisis Naratif-Teologis Berdasarkan 2 Samuel 11 Pabendan, Sumbu Surgia; Suhariono, Agus
Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Vol 4, No 1 (2026): Divinitas January
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/div.v4i1.14244

Abstract

This article analyzes the process of David's moral downfall in 2 Samuel 11 from a leadership theology perspective. Unlike previous studies that tend to emphasize sexual ethics or the narrative structure of the text, this study focuses on the dimensions of leadership negligence and spiritual vigilance degradation that preceded David's sinful actions. Using a qualitative approach with a theological-narrative analysis method, this study traces the stages of David's downfall: (1) negligence of leadership responsibilities (2 Sam 11:1), (2) progressive moral degradation (11:2-5), (3) abuse of power (11:6-27), to (4) divine judgment on his actions (12:1-14). The findings show that prosperity and consolidation of power without consistent spiritual vigilance pose a serious threat to the integrity of spiritual leadership. David's story confirms that the legitimacy of spiritual leadership is not determined by success or position, but by faithfulness before God. Practical implications for church leadership and Christian ministry today are also discussed.AbstrakArtikel ini menganalisis proses kejatuhan moral Daud dalam 2 Samuel 11 dari perspektif teologi kepemimpinan. Berbeda dengan studi-studi sebelumnya yang cenderung menekankan aspek etika seksual atau struktur naratif teks, penelitian ini fokus pada dimensi kelalaian kepemimpinan dan degradasi vigilansi spiritual yang mendahului tindakan dosa Daud. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis naratif-teologis, penelitian ini menelusuri tahapan kejatuhan Daud: (1) kelalaian terhadap tanggung jawab kepemimpinan (2 Sam 11:1), (2) degradasi moral yang progresif (11:2-5), (3) penyalahgunaan kekuasaan (11:6-27), hingga (4) penilaian ilahi atas tindakannya (12:1-14). Temuan menunjukkan bahwa kemakmuran dan konsolidasi kekuasaan tanpa disertai vigilansi spiritual yang konsisten merupakan ancaman serius bagi integritas kepemimpinan rohani. Kisah Daud menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan rohani tidak ditentukan oleh keberhasilan atau posisi, melainkan oleh kesetiaan hidup di hadapan Allah. Implikasi praktis bagi kepemimpinan gereja dan pelayanan Kristen masa kini juga dibahas.