Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Konvergensi Simbolik Netizen dalam Komunikasi Politik Digital Isu Banjir @dkijakarta Era Pramono Anung Hamdi, Azka; Ahsyan Annu'man, Muhamad; Maritza Riad, Salma; Azzahran Setiawan, Daffa; Rafiq Al Munawar, Sayid; Nur Hanifah, Annida; Haizi, Safrul
JIPSI Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Vol 15 No 2 (2025): JIPSi : Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/jipsi.v15i2.16983

Abstract

Penelitian ini menganalisis konvergensi simbolik netizen dalam komunikasi politik digital tentang mitigasi banjir Jakarta melalui akun Instagram resmi @dkijakarta pada minggu pertama pemerintahan Gubernur Pramono Anung. Dengan pendekatan studi kasus kualitatif, enam unggahan bertema banjir (20–27 Februari 2025) diamati, dan 360 komentar pengguna dianalisis berdasarkan tema fantasi, isyarat simbolik, dan peran komunikatif. Tiga sub‐tema fantasi ditemukan: akuntabilitas gubernur atas banjir historis, dukungan bersyarat terhadap kebijakan baru, dan frustrasi terhadap masalah tak terselesaikan. Interaksi netizen terbagi menjadi tiga kategori harapan (150 komentar), saran konstruktif (120 komentar), dan skeptisisme/pesimisme (90 komentar) mengungkap visi retoris kolektif yang mendukung sekaligus menantang narasi pemerintah. Meskipun visual @dkijakarta menampilkan upaya infrastruktur dan teknologi kontrol banjir digital, pola komunikasi satu arah menimbulkan interpretasi terpolarisasi: sebagian memuji transparansi dan proaktivitas, sedangkan sebagian lain menilai sekadar pencitraan. Dengan menerapkan Teori Konvergensi Simbolik Bormann dan etika dialogis I–Thou versus I–It Buber, studi menemukan potensi partisipatif yang belum dimanfaatkan tanpa dialog responsif. Rekomendasi mencakup balasan publik terkurasi, sesi tanya jawab langsung, dan integrasi komentar sistematis untuk menciptakan interaksi dua arah, membangun legitimasi politik, dan mempertahankan rantai fantasi positif.