Khofifah Indar Parawansah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Memahami Komunikasi Sosial: Front Stage dan Back Stage Menurut Teori Dramaturgi Goffman Khofifah Indar Parawansah
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/8td39d58

Abstract

Erving Goffman's dramaturgical theory offers an important perspective in understanding social communication as a performance process involving impression management. This study aims to analyze how the concepts of front stage and back stage are applied in individuals' social communication in everyday life. The approach used is qualitative, using literature studies and observations of social interaction patterns in modern social contexts. The front stage is understood as a public interaction space where individuals display behaviors that have been adjusted to norms, social roles, and audience expectations. Meanwhile, the back stage is a private space that allows individuals to express themselves more freely without social pressure and serves as a preparation area before performing in public. The results show that individuals consistently separate behavior and communication methods between the front stage and back stage. On the front stage, communication tends to be formal, controlled, and oriented toward a positive self-image. In contrast, on the back stage, communication is more spontaneous, honest, and reflects a true personal identity. This study also found that in the context of social media, the boundaries between the front stage and back stage are increasingly blurred, as private spaces are often presented for public consumption. This encourages individuals to continue practicing impression management even outside of face-to-face interactions. In conclusion, Goffman's dramaturgical theory is relevant in explaining the dynamics of contemporary social communication. Understanding the front stage and back stage helps explain how individuals form social identities, maintain relationships, and adapt to the demands of an ever-evolving social environment. Abstrak Teori dramaturgi Erving Goffman menawarkan perspektif penting dalam memahami komunikasi sosial sebagai suatu proses pertunjukan yang melibatkan pengelolaan kesan (impression management). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konsep front stage dan back stage diterapkan dalam komunikasi sosial individu pada kehidupan sehari-hari. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi literatur dan observasi terhadap pola interaksi sosial dalam konteks sosial modern. Front stage dipahami sebagai ruang interaksi publik di mana individu menampilkan perilaku yang telah disesuaikan dengan norma, peran sosial, dan ekspektasi audiens. Sementara itu, back stage merupakan ruang privat yang memungkinkan individu mengekspresikan diri secara lebih bebas tanpa tekanan sosial, serta menjadi tempat persiapan sebelum tampil di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu secara konsisten memisahkan perilaku dan cara berkomunikasi antara front stage dan back stage. Pada front stage, komunikasi cenderung formal, terkontrol, dan berorientasi pada citra diri positif. Sebaliknya, pada back stage, komunikasi bersifat lebih spontan, jujur, dan mencerminkan identitas personal yang sesungguhnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa dalam konteks media sosial, batas antara front stage dan back stage semakin kabur, karena ruang privat sering kali dipresentasikan sebagai konsumsi publik. Hal ini mendorong individu untuk terus melakukan pengelolaan kesan bahkan di luar interaksi tatap muka. Kesimpulannya, teori dramaturgi Goffman relevan dalam menjelaskan dinamika komunikasi sosial kontemporer. Pemahaman terhadap front stage dan back stage membantu menjelaskan bagaimana individu membentuk identitas sosial, menjaga hubungan, serta menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosial yang terus berkembang.
Komparasi Eksistensialisme Dan Humanisme Dalam Perspektif Pendidikan Islam Khofifah Indar Parawansah
Al-Abshor : Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 3 No. 2 (2026): Pendidikan Agama Islam
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/9at7ag10

Abstract

This article examines the comparative differences between Existentialism and Humanism and their relevance from an Islamic educational perspective. Existentialism is understood as a school of thought that emphasizes individual freedom, self-awareness, and personal responsibility in determining the meaning of life. Meanwhile, humanism places humans at the center of development, with a focus on self-potential, psychological needs, and respect for human dignity. This study aims to identify the similarities and differences between the two schools of thought, while also examining how Islamic education can synthesize the positive values ​​of both within the framework of monotheism, morality, and the development of human nature. The method used is library research, which examines various relevant literature, including books, scientific journals, and academic works that discuss existentialism, humanism, and the principles of Islamic education. The analysis is conducted descriptively and comparatively to describe the characteristics of each school of thought, followed by a normative approach to examine its position from an Islamic educational perspective. The results of the study indicate that Islamic education can accommodate the values ​​of conscious and responsible freedom from existentialism, as well as the principles of potential development and respect for human dignity from humanism. This integration is reflected in learning practices such as deliberation, dialogic learning, and providing space for students to develop their potential. However, the entire process remains directed toward the formation of spiritual and moral values, thus producing individuals with a balance between intellectual, social, and religious aspects. Abstrak Artikel ini mengkaji komparasi antara Eksistensialisme dan Humanisme serta relevansinya dalam perspektif Pendidikan Islam. Eksistensialisme dipahami sebagai aliran yang menekankan kebebasan individu, kesadaran diri, serta tanggung jawab personal dalam menentukan makna hidup. Sementara itu, humanisme menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan, dengan fokus pada potensi diri, kebutuhan psikologis, dan penghargaan terhadap martabat kemanusiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan kedua aliran tersebut, sekaligus menelaah bagaimana pendidikan Islam mampu menyintesiskan nilai-nilai positif dari keduanya dalam kerangka tauhid, akhlak, dan pengembangan fitrah manusia. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan menelaah berbagai literatur yang relevan, baik berupa buku, jurnal ilmiah, maupun karya akademik yang membahas eksistensialisme, humanisme, dan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Analisis dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk menggambarkan karakteristik masing-masing aliran, kemudian dilanjutkan dengan pendekatan normatif untuk melihat posisinya dalam perspektif pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat mengakomodasi nilai kebebasan yang sadar dan bertanggung jawab dari eksistensialisme, serta prinsip pengembangan potensi dan penghargaan terhadap martabat manusia dari humanisme. Integrasi ini tercermin dalam praktik pembelajaran seperti musyawarah, pembelajaran dialogis, serta pemberian ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensinya. Namun, seluruh proses tersebut tetap diarahkan pada pembentukan nilai spiritual dan moral, sehingga menghasilkan individu yang seimbang antara intelektual, sosial, dan keagamaan.