Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Waktu Ekstraksi Dengan Metode Microwave Assisted Extraction (Mae) Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Ungu (Graptophyllum Pictum L.Griff) Adi Wibawa, I Nyoman; Ari Yusasrini, Ni Luh; Mahendra Putra, I Gede Arie
Itepa : Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan Vol. 14 No. 3 (2025): ITEPA
Publisher : Study Program of Food Technology, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/itepa.2025.v14.i03.p01

Abstract

Abstract Phenolic secondary metabolite compounds such as flavonoids and anthocyanins contained in purple leaves function as antioxidants. One of the antioxidant properties of ethanol extract of purple leaves is the ability to capture DPPH free radicals. A possible method to obtain these compounds is Microwave Assisted Extraction (MAE). The MAE method is a method that utilizes rapid and efficient solvent heating involving microwave radiation. Extraction time is a factor that can affect antioxidant activity. Research on purple leaf extract using MAE method aims to determine the right extraction time in producing the highest antioxidant activity and the effect of purple leaf extraction time on antioxidant activity. This study uses a complete randomized design (CRD) with extraction time treatment consisting of five levels, namely; 1, 3, 5, 7 and 9 minutes. The treatment was repeated three times to obtain an experiment of 15 units. The data obtained were analyzed using variance analysis and the treatment influenced the test parameters followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that the extraction time on purple leaves using the MAE method had a very significant effect on yield, total flavonoids, total phenols, total anthocyanins and IC50. Extraction time of 5 minutes can produce extracts with the highest antioxidant activity based on IC50 of 75.07 ppm and classified as strong antioxidants, yield of 37.74%, total phenols 56.06 mg GAE/g, total flavonoids 15.06 mg QE/g and total anthocyanins 43.29 mg/L. Keywords: Antioxidant, Purple leaves, Microwave Assisted Extraction, Time, Extraction Abstrak Senyawa metabolit sekunder golongan fenol seperti flavonoid dan antosianin yang terkandung dalam daun ungu berfungsi sebagai antioksidan. Salah satu sifat antioksidan ekstrak etanol daun ungu adalah kemampuan untuk menangkap radikal bebas DPPH. Metode yang digunakan untuk mendapatkan senyawa tersebut adalah Microwave Assisted Extraction (MAE). Metode MAE merupakan salah satu proses memanfaatkan radiasi gelombang mikro dengan cara memanaskan pelarut secara cepat dan efisien. Waktu ekstraksi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan. Penelitian ekstrak daun ungu menggunakan metode MAE bertujuan untuk menentukan waktu ekstraksi yang tepat dalam menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi dan pengaruh waktu ekstraksi daun ungu terhadap aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan waktu ekstraksi yang terdiri dari lima taraf, yaitu; 1,3,5,7 dan 9 menit. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali hingga diperoleh 15 unit percobaan. Data yang didapat dianalisis menggunakan sidik ragam dan perlakuan berpengaruh terhadap parameter uji dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa waktu ekstraksi pada daun ungu menggunakan metode MAE menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap rendemen, total flavonoid, total fenol, total antosianin dan IC50. Ekstraksi waktu 5 menit mampu menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan tertinggi berdasarkan IC50 sebesar 75,07 ppm dan tergolong antioksidan kuat, rendemen 37,74%, total fenol 56,06 mg GAE/g, total flavonoid 15,06 mg QE/g dan total antosianin 43,29 mg/L. Kata kunci: Antioksidan, Daun ungu, Microwave Asissted Extraction, Waktu, Ekstraksi
Pengaruh Perbandingan Terigu Dengan Tepung Milet (Panicum Miliaceum L.) Kecambah Fermentasi Terhadap Karakteristik Bakpia Br Hombing, Rachel Angel; Hapsari Arihantana, Ni Made Indri; Mahendra Putra, I Gede Arie
Itepa : Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan Vol. 14 No. 3 (2025): ITEPA
Publisher : Study Program of Food Technology, Faculty of Agricultural Technology, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/itepa.2025.v14.i03.p05

Abstract

Abstract Bakpia is a traditional Chinese pastry filled with a sweet or savory filling and made with a flour-based dough. With the increasing consumption of wheat-based products, the use of fermented millet flour (FMF) has emerged as a promising alternative to reduce dependency on wheat and enhance the nutritional value of the product. This study aims to evaluate the impact of varying ratios of wheat flour to FMF on the characteristics of bakpia and determine the optimal ratio for achieving the best quality. The research employs a Completely Randomized Design (CRD) with six different ratios of wheat flour to FMF: 100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, and 50:50. Each combination is tested three times, resulting in a total of 18 experimental units. The collected data are analyzed using analysis of variance (ANOVA), and if significant differences are found, the analysis is further extended with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) to assess differences among treatments. The results indicate that the ratio of wheat flour to FMF significantly affects various parameters, including moisture content, protein content, crude fiber content, fat content, tannin content, hardness, and sensory evaluations such as color, aroma, texture, taste, taste scoring, and overall acceptance. The optimal ratio is found to be 80% wheat flour and 20% FMF, which produces bakpia with a moisture content of 9.93%, protein content of 9.78%, crude fiber content of 2.18%, fat content of 37.82%, tannin content of 0.09%, and a hardness level of 17.79 N. Panelists rated bakpia with this ratio as having a somewhat preferred color, a preferred aroma, a preferred texture, a slightly bitter and somewhat preferred taste, and an overall positive acceptance. Keywords : bakpia, wheat flour, fermented sprouted millet flour Abstrak Bakpia adalah kue tradisional China yang memiliki isian dan kulit berbahan dasar terigu. Dengan meningkatnya konsumsi produk berbasis terigu, penggunaan tepung millet kecambah fermentasi (TMKF) muncul sebagai alternatif yang potensial untuk mengurangi ketergantungan pada terigu serta meningkatkan nilai gizi produk, namum memerlukan konsentrasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan terigu dan TMKF terhadap sifat-sifat bakpia, serta untuk menentukan rasio terbaik guna menghasilkan kualitas yang optimal. Desain penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam taraf perbandingan antara terigu dan TMKF, yaitu: 100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, dan 50:50. Setiap kombinasi diuji sebanyak tiga kali, sehingga total unit percobaan mencapai 18. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varians, dan apabila terdapat perbedaan signifikan, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk mengevaluasi perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perbandingan terigu dan TMKF secara signifikan mempengaruhi berbagai parameter, termasuk kadar air, kadar protein, kadar serat kasar, kadar lemak, kadar tanin, tingkat kekerasan, serta penilaian panelis terhadap warna, aroma, tekstur, rasa, skoring rasa, dan penerimaan keseluruhan. Variasi terbaik ditemukan pada rasio 80% terigu dan 20% TMKF, yang menghasilkan bakpia dengan kadar air 9,93%, kadar protein 9,78%, kadar serat kasar 2,18%, kadar lemak 37,82%, kadar tanin 0,09%, serta tingkat kekerasan 17,79 N. Panelis menilai bakpia dengan rasio ini memiliki warna yang agak disukai, aroma yang disukai, tekstur yang disukai, rasa yang agak sepat dan agak disukai, serta penerimaan keseluruhan yang positif. Kata kunci : bakpia, terigu, tepung millet kecambah fermentasi