AbstrakKegiatan pemilahan sampah belum menjadi budaya di masyarakat Dusun Capar Kulon, Desa Jlamprang, Kabupaten Wonosobo. Hal ini menjadi penyabab beberapa masalah terkait sampah. Pertama, adanya tumpukan sampah menyebabkan bau menyengat, dan sumbatan saluran air. Kedua, sampah merusak pemandangan dan serta implikasi lain di bidang kesehatan. Ketiga, adanya kebiasaan membakar sampah atau membung di sungai. Untuk itu, kegiatan Gerakan Pilah Sampah (Gempilah) bertujuan sebagai upaya edukasi kepada masyarakat dan siswa SD Negeri 1 Jlamprang agar mampu memahami perbedaan sampah organik atau anorganik, daur ulang sampah, dan mengenal sistem bank sampah. Langkah-langkah kegiatan dimulai dari tahap perencanaan, dilanjutkan pelaksanaan, dan terakhir dilakukan evaluasi. Pada saat pelaksanaan digunakan metode penyuluhan pada 40 orang peserta, sementara itu untuk evaluasi digunakan soal pre-test dan post-test. rata-rata skor pre-test responden yaitu 66,25%, sementara rata-rata post-test yaitu 86,25%, sehingga ada peningkatan sebesar 20%. Berdasarkan hasil analisis ini terjadi peningkatan pemahaman responden setelah dilakukan penyuluhan Gempilah. Dengan edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami pentingnya pemilahan sampah. Kata kunci: pilah sampah; edukasi lingkungan; bank sampah. Abstract Waste segregation practices have not yet well introduced within the community of Capar Kulon, Jlamprang Village, Wonosobo Regency. This lack of management has resulted in several environmental and social issues, including foul odors, clogged drainage systems, aesthetic degradation, and public health risks. Furthermore, improper disposal habits, such as open burning and dumping waste into rivers, remain prevalent. The "Gempilah" Movement (Waste Segregation Movement) was implemented as an educational intervention for the community and students of SD Negeri 1 Jlamprang. The program aimed to improve literacy regarding organic and inorganic waste classification, recycling processes, and the waste bank system. The activity followed a structured framework consisting of planning, implementation, and evaluation stages. The implementation phase involved an educational counseling method delivered to 40 participants. Program effectiveness was measured using pre-test and post-test instruments. The results indicated a significant increase in participant understanding, with average scores rising from 66.25% in the pre-test to 86.25% in the post-test, with a net improvement of 20%. These findings shows that the Gempilah initiative successfully enhanced community knowledge, providing a foundation for sustainable waste management practices in the region. Keywords: waste segregation; environmental education; waste bank