sosodoro, Bambang
Institut Seni Indonesia Surakarta

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

MUNGGUH DALAM GARAP KARAWITAN GAYA SURAKARTA: SUBJEKTIFITAS PENGRAWIT DALAM MENGINTERPRETASI SEBUAH TEKS MUSIKAL Bambang Sosodoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v15i1.2025

Abstract

Pada hakikatnya, tulisan ini mengkaji sebuah konsep yang terkandung dalam garap karawitan gaya Surakarta, yakni mungguh. Secara prinsip, masyarakat karawitan Jawa memaknai mungguh sebagai persoalan yang menyangkut tentang etika-estetika, nilai-nilai keindahan, dan keidealan pengrawitdalam menyikapi ricikannya. Mulai dari sikap duduk menabuh, teknik memainkan atau menyuarakan instrumen, hingga ke persoalan musikal, yakni garap gendhing atau instrumen. Mungguh adalah bahasa Jawa yang berarti: patut atau pantes, manggon, trep, gathuk, dan penak (pantas, sesuai pada tempatnya, pas, cocok, dan enak). Studi ini mengkaji secara tekstual, yaitu menempatkan karawitan Jawa sebagai sebuah teks (musikal), artinya sesuatu yang perlu dibaca dan ditafsir. Adapun fokusnya adalah menyoroti perkembangan mungguh pada garap, berikut pandangan-pandangan oleh para pengrawit khususnya di Surakarta. Kelenturan jenis musik ini menawarkan sejumlah alternatif garap, maka tidak mengherankan jika muncul banyak perbedaan pandangan, keyakinan, dan selera di antara para pengrawit. Dalam menggarap gendhing “klasik”, sebagian besar pengrawit selalu mempertimbangkan konsep-konsep estetika Jawa, salah satunya ialah mungguh. Mungguh sesungguhnya adalah persoalan kebiasaan, kelaziman garap yang telah mapan, disepakati secara kolektif oleh masyarakat karawitanJawa. Bahkan, sifatnya sangat subyektif dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk mengungkap dan mengkaji konsep mungguh, diperlukan konsep garap. Konsep tersebut dipandang cukup relevan, karena pada hakikatnya mungguh adalah konsep estetika yang selalu melekat dan terkandung dalam konsepgarap itu sendiri. Dalam penerapannya, konsep garap tersebut dielaborasi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian ini, sehingga terwujud sebuah model baru.Kata Kunci: mungguh, garap, subyektifitas.
GENDING POTHOK DALAM KARAWITAN GAYA SURAKARTA Bambang Sosodoro; Faralin Sulfianastiwi
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 17 No. 1 (2017)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v17i1.2383

Abstract

AbstractThe aim of this study is to gain an understanding of gending pothok in Surakarta style karawitan. The research data was gathered through a library study, transcription of data, and interviews, relying on data obtained from the empirical knowledge of karawitan maestros. A qualitative method is used with emphasis on an analytical descriptive and interpretative approach. The problem of garap (interpretation) in gending pothok is addressed using a musicological approach and the theory of garap. The results of the study show that: (1) the term pothok in Surakarta style karawitan refers to traditional Surakarta style gending with a single balungan (skeleton melody) that is used in all forms and irama, without – or different from – the concept of widening gatra such as in Ladrang Pangkur; (2) the form of gending Pothok is merong becoming inggah, inggah becoming ladrang, and ladrang; (3) the performance of gending Pothok always includes several different irama and is not restricted to a particular irama unless it is connected to another art; (4) the appearance of gending Pothok began with gending santiswara during the reign of PB IV, subsequently developing into gending klenengan, pakeliran, and dance. It is hoped that the results of this research will contribute new ideas to the world of karawitan and be used as a reference for future studies.  Keywords: garap, gending, pothok. AbstrakStudi ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai gending–gending pothok dalam karawitan gaya Surakarta. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data melalui studi pustaka, transkripsi data, serta wawancara dengan mengandalkan data yang diperoleh dari pengetahuan empirik empu–empu karawitan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang menekankan pada deskriptif analitik dan interpretatif. Sementara  permasalahan garap gending–gending pothok dikupas dengan menggunakan pendekatan musikologi yaitu teori garap. Hasil dari studi ini menunjukkan, bahwa (1) istilah Pothok di dalam karawitan Gaya Surakarta adalah sebuah istilah untuk menyebutkan atau menunjukkan gending tradisi karawitan Gaya Surakarta yang mempunyai satu rangkaian balungan saja, dimana balungan tersebut digunakan dalam semua bentuk dan irama, akan tetapi tanpa dan atau berbeda dengan konsep pelebaran gatra seperti yang ada pada Ladrang Pangkur. (2) Bentuk dari gending–gending Pothok yaitu merong menjadi inggah, inggah menjadi ladrang dan ladrang. (3) Pada sajiannya gending–gending Pothok selalu terdiri dari beberapa irama, dan tidak hanya dengan satu irama saja kecuali yang berhubungan dengan keperluan seni lain. (4.) Kemunculan gending Pothok berawal dari gending santiswara pada masa PB IV, yang kemudian berkembang menjadi gending klenengan, pakeliran, dan tari. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam dunia karawitan dan dapat dijadikan sebagai acuan maupun referensi bagi penelitian selanjutnya. Kata Kunci: garap, gending, pothok.
Interaksi Dan Komunikasi Musikal Dalam Garap Sekaten Bambang Sosodoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 18 No. 2 (2018)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v18i2.2403

Abstract

AbstractThe traditions that govern the music of gamelan Sekaten are commonly referred to as garap Sekaten. Based on observations of current musical practice, it can be comprehensively stated that garap Sekaten involves musical interaction and communication. This is reflected in the melodic phrases and interactive grammar between particular instruments of this ensemble. The characteristics, unique qualities, and complexities of garap sekaten have also influenced the gamelan ageng. For example, gendhing Bonang are a genre within gamelan ageng repertoire that accentuate the "loud" instruments and incorporate the sesegan/sabetan playing style found in garap Sekaten. This style is also adopted in particular gendhing Rebab in specific ways. Similarly, several instrumental techniques found in gamelan Ageng originate in garap Sekaten. These include imbal Demung, kinthilan, cegatan and nduduk tunggal techniques for Bonang, and salahan patterns for Kendhang. In short, an understanding of Garap Sekaten is one way of acquiring performance skills in individual instruments and gaining methods for interpreting certain gendhing. Key words: Garap Sekaten, Musical Interaction, Musical Communication AbstrakTradisi atau kaidah-kaidah dalam praktik musikal gamelan sekaten lazim disebut garap sekaten. Berdasarkan fakta-fakta dan realitas praktik, secara komprehensif dapat dikatakan bahwa garap sekaten terdapat interaksi dan komunikasi musikal. Hal tersebut tercermin dalam kalimat lagu dan gramatikal permainan antar ricikan tertentu. Cirikhas, keunikan, dan kompleksitas garap sekaten juga berkembang di gamelan ageng. Seperti, gending-gending bonang yang menonjolkan instrumen bersuara nyaring, disertai garap sesegan/ sabetan. Garap sabetan yang melekat pada penyajian gending bonang, selanjutnya dikembangkan pada gending-gending rebab dengan ketentuan dan ciri-ciri tertentu. Juga teknik-teknik permainan ricikan, seperti imbal demung, kinthilan, teknik cegatan-nduduk tunggal pada bonangan, hingga pola salahan kendang. Singkatnya, garap sekaten dapat dipahami sebagai suatu tata cara yang memiliki karakteristik dalam menyajikan ricikan maupun mengintepretasi gending tertentu.Kata Kunci: garap sekaten, interaksi, komunikasi musikal
ALIH LARAS DALAM GARAP GÊNDER GENDING KÊNCÊNG LARAS PÉLOG PATHÊT NEM Lia Tri Lestari; Bambang Sosodoro Rawan Jayantoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 22 No. 1 (2022)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v22i1.4096

Abstract

This study aimed to review, analyze, and describe working on Gendèran gending Kenceng. The song is one of the Surakarta style gendèr repertoire whose source is the laras Slendro pathet Sanga, and the tuning is converted to the laras Pelog pathet Nem. Two problems in this study, namely (1) How to change the laras of Kenceng gending, which was initially a laras slendro pathêt sanga to a laras pélog pathêt nem. (2) why the gending Kenceng is interesting to be converted into a laras pélog pathêt nem. This type of art research is descriptive qualitative research. The work method starts by designing the work, determining the source and type of data, then collecting data. The data were collected by literature study, observation, and interviews. This problem is studied based on the rules in gendèran, the concept of pathet, the idea of garap, and the concept of mungguh. The study's results showed that in changing the laras of the Kenceng gending dish, there was a change in the arrangement of the balungan grooves. In a Kenceng gending, there is also a balungan arrangement that has the potential to be worked on by applying another céngkok gawan gending to be used to Kenceng gending but still in the rules of Surakarta-style karawitan.
LARAWUDHU : SAJIAN MRABOT DAN KAJIAN GARAP GENDER Tofiq Hidayah; Bambang Sosodoro Rawan Jayantoro
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 23 No. 1 (2023)
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v23i1.4794

Abstract

 This research is expected to be a vokabuler of mrabot garap with specific studies of gending dynamics and popularization of Larawudhu gendhing using kendang inggah garap. Larawudhu itself is generally served using the inggah-inggahan, namely ladrang Clunthang. In this study, it will be explained about the series of gendings selected to achieve the desired gending dynamics. The concepts used include; the concept of garap by Rahayu Supanggah, the concept of mandheg by Ananto Sabdo Aji, the concept of mungguh by Bambang Sosodoro, and the concept of wiledan gender kembang tiba & ukel pancaran by Sumarsam. The method used is qualitative by means of book literature studies or related research, direct and indirect observations are also carried out to expand the author's knowledge in reviewing this research, as well as interviews with karawitan experts as input or advice for the author in conducting research. The results of this analysis offer or novelty of the work include; Larawudhu is presented using inggah kendang without changing the essence of gending Larawudhu itself, vokabuler offers mrabot with a series of gending – gending that are not similar, garap ciblon irama wiled and rangkep as an alternative garap in the form of inggah, as well as doing garap andhegan with consideration as a reinforcement of prenes elements in the garap of ciblon irama rangkep.