This study aims to explain how entrepreneurship training provided by Graha Nawasena Denpasar contributes to the resilience of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) owned by persons with disabilities through the development of skills, innovation, and networks. Using a qualitative approach and purposive sampling, seven informants were selected, including disabled MSME owners, and the coordinator of Graha Nawasena. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using NVivo 14. The findings reveal that the training enhances participants’ technical abilities, interpersonal skills, self-confidence, and adaptive resilience. Participants also demonstrate increased innovation through the adoption of new tools, product diversification, and simple marketing strategies aligned with their abilities and market needs. Furthermore, social networks formed through community activities, exhibitions, institutional support, and digital promotion strengthen business continuity and expand market opportunities. The results indicate that entrepreneurship training plays a significant role in building the resilience of disabled MSMEs by reinforcing internal resources based on the Resource-Based View framework. Overall, the training serves as a key factor enabling disabled entrepreneurs to survive, grow, and adapt despite various limitations.Keywords: entrepreneurship training, disabled MSMEs, business resilience, skills, innovation, networksPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Graha Nawasena Denpasar berkontribusi terhadap ketahanan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik penyandang disabilitas melalui pengembangan keterampilan, inovasi, dan jejaring. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik purposive sampling, sehingga terpilih tujuh informan yang terdiri atas pemilik UMKM penyandang disabilitas, serta koordinator Graha Nawasena. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan NVivo 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan tersebut mampu meningkatkan kemampuan teknis, keterampilan interpersonal, kepercayaan diri, serta daya adaptif peserta. Peserta juga menunjukkan peningkatan inovasi melalui penerapan alat baru, diversifikasi produk, dan strategi pemasaran sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan serta kebutuhan pasar. Selain itu, jejaring sosial yang terbentuk melalui kegiatan komunitas, pameran, dukungan kelembagaan, dan promosi digital berperan dalam memperkuat keberlanjutan usaha serta memperluas peluang pasar. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan kewirausahaan memiliki peran signifikan dalam membangun ketahanan UMKM penyandang disabilitas dengan memperkuat sumber daya internal sebagaimana dijelaskan dalam kerangka Resource-Based View. Secara keseluruhan, pelatihan ini menjadi faktor kunci yang memungkinkan wirausaha penyandang disabilitas untuk bertahan, berkembang, dan beradaptasi meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.Kata kunci: pelatihan kewirausahaan, UMKM penyandang disabilitas, ketahanan usaha, keterampilan, inovasi, jejaring