Pelayanan ICU yang bermutu tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis tenaga kesehatan, tetapi juga oleh kesiapan teknologi dan efektivitas komunikasi digital antara tenaga medis dan keluarga pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kesiapan infrastruktur teknologi, frekuensi dan durasi komunikasi, kualitas informasi, serta aksesibilitas sistem komunikasi dengan kepuasan keluarga pasien ICU di RSUD Morowali, serta mengidentifikasi faktor dominan yang berpengaruh. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif dengan desain cross-sectional, dilakukan di ICU RSUD Morowali pada September–November 2025, melibatkan 96 keluarga pasien yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 25 item dengan skala Likert 1–5, meliputi empat indikator kepuasan: responsivitas, kejelasan informasi, empati tenaga kesehatan, dan kenyamanan akses komunikasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square/Fisher’s Exact Test dan regresi logistik biner. Hasil analisis bivariat menunjukkan seluruh variabel independen berhubungan signifikan dengan kepuasan keluarga (p < 0,05). Namun, dalam model multivariat, hanya kesiapan infrastruktur teknologi yang tetap berpengaruh signifikan (p = 0,033; OR = 0,038; 95% CI: 0,002–0,764). Keluarga pasien yang menilai infrastruktur tidak siap memiliki risiko ketidakpuasan 26,3 kali lebih tinggi dibandingkan keluarga yang menilai infrastruktur siap. Model regresi menunjukkan kinerja baik (Omnibus Test p = 0,003; Nagelkerke R² = 0,518; akurasi prediksi 96,9%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesiapan infrastruktur teknologi merupakan determinan utama kepuasan keluarga pasien ICU. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan sistem komunikasi digital berbasis family-centred care melalui peningkatan stabilitas Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), keandalan perangkat monitoring, serta keterjangkauan akses komunikasi daring. Keterbatasan penelitian ini meliputi cakupan lokasi tunggal dan penggunaan desain potong lintang yang tidak menggambarkan hubungan kausalitas.