Pencemaran sampah laut (marine debris) di wilayah pesisir Indonesia telah menjadi krisis sistemik yang mengancam stabilitas ekosistem bahari. Meskipun Pantai Pasir Panjang di Kabupaten Pasuruan memiliki potensi ekowisata yang prospektif, kawasan ini menghadapi tekanan polusi plastik yang signifikan. Masalah utama dalam kajian ini adalah adanya disparitas antara tingginya potensi wisata dengan kerentanan ekosistem akibat akumulasi sampah. Kesenjangan penelitian (gap) menunjukkan bahwa studi terdahulu masih bersifat parsial dan belum mengintegrasikan variabel tekanan lingkungan secara komprehensif ke dalam strategi perencanaan kawasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh marine debris terhadap tipologi pantai dan merumuskan strategi pengembangan ekowisata berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui observasi langsung dan analisis laboratorium sedimen dengan teknik line transect. Pendekatan ini dipilih untuk memberikan data empiris yang presisi mengenai korelasi parameter fisik lingkungan dengan sebaran sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah plastik jenis meso-debris (5 mm–2,5 cm) mendominasi kawasan dan telah terintegrasi ke dalam sedimen pasir kerikil, yang mencerminkan rendahnya manajemen limbah domestik. Limitasi penelitian ini terbatas pada observasi spasial di tiga segmen pantai saat musim tertentu. Rekomendasi yang diusulkan adalah pengembangan ekowisata partisipatif melalui program coastal clean-up tourism, zonasi berbasis komunitas, dan penguatan literasi lingkungan digital untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.