Latar Belakang: Populasi lansia terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mendorong peningkatan perhatian terhadap kesehatan fisik dan psikologis mereka. Penuaan seringkali menyebabkan penurunan fisik dan masalah kesehatan mental, di antaranya depresi merupakan yang paling umum. Depresi pada lansia dapat menyebabkan penarikan diri, kehilangan minat, dan berkurangnya interaksi sosial, yang berdampak negatif pada kualitas hidup mereka. Namun, interaksi sosial memainkan peran penting dalam mendukung kesejahteraan emosional dan mempertahankan kepuasan hidup di usia lanjut. Memahami hubungan antara depresi dan interaksi sosial pada lansia sangat penting untuk memberikan perawatan dan intervensi yang tepat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi dengan interaksi sosial lansia di PPRSLU Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan. Metode: Metode pada penelitian ini berupa penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 71 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) dan kuesioner Interaksi Sosial. Analisis korelasi menggunakan uji korelasi spearman rank. Hasil: Hasil analisis data menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat depresi dengan interaksi sosial lansia, nilai p-value 0,0133 (<0,05) dan koefisien korelasi -0,29 yang artinya arah hubungannya negatif. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini ialah tingkat depresi dan interaksi sosial lansia memiliki hubungan ke arah negatif yang artinya semakin menurun tingkat depresi maka skor interaksi sosial akan semakin meningkat.