Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peran Revitalisasi Jalan Tunjungan dalam Mewujudkan Keseimbangan Ekonomi, dan Sosial-Budaya di Surabaya Tanjaya, Jessica Caroline; Liemengkewas , Gabriella Jessica; Wijaya A.T , Michelle; Zafira, Ranni Dyah; Cristine, Laura
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.5188

Abstract

Revitalisasi kawasan heritage perkotaan sering kali menghadapi dilema kompleks antara pelestarian nilai sejarah dan tuntutan modernisasi ekonomi. Di Surabaya, Jalan Tunjungan telah bertransformasi melalui program "Tunjungan Romansa", sebuah inisiatif strategis pemerintah kota untuk menghidupkan kembali denyut nadi kawasan bersejarah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran revitalisasi Jalan Tunjungan dalam menciptakan keseimbangan dinamis antara dimensi ekonomi, sosial, dan budaya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, penelitian ini menggali data primer melalui observasi dan wawancara mendalam dengan total 15 informan, yang terdiri dari 10 pengunjung dan 5 pelaku UMKM di kawasan tersebut.  Hasil penelitian mengidentifikasi dampak signifikan pada tiga aspek utama. Pertama, secara ekonomi, revitalisasi terbukti menjadi katalisator aktivitas komersial dan peningkatan pendapatan UMKM, kendati pelaku usaha lokal kini menghadapi tantangan kompetisi ketat akibat pergeseran preferensi konsumen menuju kafe modern yang menawarkan kenyamanan lebih. Kedua, dalam dimensi sosial, kawasan ini berhasil memulihkan fungsinya sebagai ruang publik yang inklusif, aman, dan memfasilitasi interaksi lintas kelompok tanpa adanya diskriminasi. Ketiga, secara budaya, upaya pelestarian arsitektur kolonial berhasil memperkuat identitas kota sebagai destinasi wisata urban unggulan. Kendati demikian, penelitian menyimpulkan bahwa meskipun integrasi nilai heritage dengan gaya hidup modern telah tercapai, keberlanjutan kawasan ini menghadapi tantangan serius berupa kemacetan, risiko gentrifikasi, dan komodifikasi sejarah. Oleh karena itu, diperlukan tata kelola berkelanjutan untuk memitigasi risiko tersebut demi menjaga otentisitas kawasan di masa depan.