Perkembangan industri perbankan di Indonesia dalam periode pascapandemi COVID-19 menunjukkan perubahan yang signifikan, terutama akibat percepatan digitalisasi layanan keuangan dan perubahan perilaku nasabah. Kondisi ini menuntut bank umum konvensional untuk menyesuaikan strategi operasionalnya agar tetap mampu menjaga tingkat profitabilitas.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jumlah ATM, jumlah kantor cabang, dan ukuran bank terhadap profitabilitas bank komersial konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Profitabilitas diukur dengan return on assets, sedangkan jumlah ATM dan jumlah kantor cabang mewakili perluasan jaringan layanan perbankan. Ukuran bank diukur dengan total aset bank. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengambilan sampel purposif sebanyak 10 bank berdasarkan data laporan keuangan dari masing-masing bank komersial konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2020-2024. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan model random effects serta pengujian parsial dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ATM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas bank, mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah ATM berpotensi meningkatkan biaya operasional tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan yang memadai.. Jumlah kantor cabang berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas bank mencerminkan bahwa ekspansi jaringan fisik belum tentu meningkatkan kinerja keuangan bank di era digital.. Sementara itu, ukuran bank berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas bank menunjukkan bahwa besarnya aset belum menjamin peningkatan laba apabila tidak diiringi efisiensi operasional.. Temuan ini memberikan implikasi bagi manajemen perbankan untuk mempertimbangkan penambahan jumlah ATM karena berpotensi menurunkan profitabilitas bank.