Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Engaging Leadership, Work Culture, dan Psychological Well-Being Terhadap Kinerja Perawat Di Rsud Dr. H. Lm. Baharuddin, M.Kes Putri, Usti Syah; Gunawan, Rico Linus; Surah, La Ode
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.5895

Abstract

Kinerja perawat sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Perawat masih menghadapi beban kerja yang tinggi tanpa dukungan memadai dari segi sumber daya manusia, sarana prasarana, maupun pendanaan. Sering terjadi pertukaran jadwal kerja dengan perawat senior atau perawat ASN yang cenderung memilih shift pagi saja, sehingga beban kerja berlebih harus ditanggung oleh perawat junior atau perawat honorer. Kondisi ini mencerminkan lemahnya peran engaging leadership kepala ruangan dalam menciptakan pembagian kerja yang adil dan memberdayakan seluruh anggota tim. Kurangnya pengaturan jadwal yang transparan dan partisipatif dapat menurunkan rasa keadilan organisasi (organizational justice) serta menghambat motivasi dan keterlibatan kerja, khususnya pada tenaga kesehatan dengan status kepegawaian non-ASN. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan jenis pendekatan penilaian survei dengan rancangan cross sectional yang dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. LM. Baharuddin, M.Kes pada bulan Januari 2025 dengan sampel sebanyak 120 responden. Yang kemudian data dari responden dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Engaging Leadership, Work Culture, dan Psychological Well-Being berpengaruh signifikan terhadap kinerja perawat, dengan Psychological Well-Being menjadi faktor paling dominan. Hal ini berarti perawat yang memiliki tingkat kesejahteraan psikologis tinggi berpeluang 12,6 kali lebih besar untuk memiliki kinerja optimal dibandingkan dengan yang kesejahteraan psikologisnya rendah.